EmitenNews.com - Kapasitas produksi industri keramik nasional ternyata mampu terus bertumbuh ketika produksi keramik dunia justru mengalami penurunan. Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto menjelaskan, kapasitas produksi industri keramik nasional meningkat dari 538 juta meter persegi per tahun pada 2021 menjadi 650 juta meter persegi per tahun pada 2025 atau tumbuh sekitar 25 persen.

Pada tahun 2026, kapasitas tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 672 juta meter persegi per tahun dan terus bertambah hingga mencapai 728 juta meter persegi per tahun pada 2029. “Ini menunjukkan tren yang berlawanan dengan industri keramik dunia yang mengalami penurunan produksi sejak 2021. Industri keramik Indonesia justru terus tumbuh dan memperkuat kapasitasnya,” ungkapnya pada pembukaan Pameran Keramika Expo Indonesia ke-11 di NICE PIK 2, Tangerang, Banten, Kamis (4/6).

Selain kapasitas produksi, tingkat utilisasi industri juga mengalami perbaikan signifikan. Setelah sempat turun hingga 63 persen pada 2024, utilisasi industri keramik nasional berhasil meningkat menjadi 73 persen pada 2025. Sementara pada semester I tahun 2026, tingkat utilisasi tercatat sebesar 72,5 persen.

ASAKI optimistis tingkat utilisasi pada akhir tahun ini dapat melampaui capaian tahun sebelumnya dan mencapai target 75 persen. “Target utilisasi 75 persen pada tahun 2026 sangat realistis untuk dicapai. Kami yakin kinerja industri akan semakin baik seiring meningkatnya permintaan pasar domestik,” tutur Edy.

Lebih lanjut, Edy menyampaikan bahwa sekitar 95 persen produksi keramik nasional ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. ASAKI juga mengklaim industri keramik nasional telah memasuki era swasembada keramik. Sejak 2020 hingga 2029, industri keramik nasional menambah kapasitas produksi sebesar 190 juta meter persegi atau tumbuh sekitar 35 persen.

Penambahan kapasitas tersebut jauh melampaui volume impor keramik tertinggi yang pernah tercatat pada 2024 sebesar 78 juta meter persegi. “Artinya, industri keramik nasional saat ini mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar domestik tanpa harus bergantung pada impor,” tegas Edy.

Ekspansi industri tersebut juga berdampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja dan investasi. Edy menyebutkan bahwa tambahan kapasitas produksi sejak 2020 hingga 2029 menyerap investasi lebih dari Rp25 triliun dan menciptakan lebih dari 20 ribu lapangan kerja baru. Dengan perkembangan tersebut, jumlah tenaga kerja yang terserap di industri keramik nasional diperkirakan mencapai lebih dari 175 ribu orang pada 2029.