Matahari (LPPF) Rencanakan Dividen Jumbo Setara Yield 13,77 Persen!
Salah satu gerai Matahari Department Store milik LPPF. Foto: Istimewa.
EmitenNews.com - PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) emiten ritel milik grup Lippo memaparkan arah strategi 2026 dalam Public Expose pada 27 Februari 2026 lalu, di tengah tekanan konsumsi yang masih membayangi kinerja ritel nasional.
Perseroan juga mengusulkan pembagian dividen sebesar Rp250 per saham untuk tahun buku 2025. Memasuki 2026, manajemen LPPF dalam terbitannya yang dikutip Rabu (4/3/2026) menetapkan empat fokus utama yakni, penguatan merchandise, optimalisasi jaringan gerai, peningkatan keekonomian, dan penguatan omnichannel.
Walau di tengah kombinasi tekanan makro dan efisiensi internal yang dialami, LPPF mengusulkan dividen Rp250 per saham. Apabila mengacu harga saham LPPF senilai Rp1.815 per lembar pada intraday perdagangan Rabu (4/3/2026), nilai keuntungan tersebut berpotensi setara dengan dividend yield sekitar 13,77 persen.
Sebagai catatan, jika disetujui dalam RUPS Tahunan LPPF, pembagian dividen tersebut menjadi salah satu imbal hasil tunai tertinggi di sektor ritel domestik saat ini.
Berdasarkan Laporan Keuangan per 31 Desember 2025, LPPF membukukan penjualan Rp11,1 triliun atau turun 10,2 persen secara tahunan, dengan Same Store Sales Growth (SSSG) minus 7,5 persen di seluruh wilayah. EBITDA tercatat Rp1,2 triliun atau turun 16,9 persen, sementara laba bersih menyusut 12,4 persen menjadi Rp725 miliar.
Di tengah pelemahan tersebut, margin kotor relatif stabil di level 34,7 persen, ditopang bauran merek eksklusif dan disiplin harga. Perseroan juga mencatat efisiensi OPEX sebesar 6,6 persen, membantu menahan tekanan profitabilitas.
Pada 2025, LPPF telah menutup tujuh gerai berkinerja rendah serta memperluas konsep mono-brand SUKO dan ZES serta multi-brand MU+KU. Tahun ini, ekspansi format tersebut akan dipercepat di mal strategis, disertai renovasi gerai terpilih untuk menarik demografi kalangan muda.
Arus kas operasi tercatat Rp1,668 triliun pada 2025, sementara posisi kas akhir tahun mencapai Rp448 miliar, dengan fasilitas pinjaman yang belum digunakan sebesar Rp1,7 triliun. Belanja modal alias Capex tetap dialokasikan untuk pembukaan gerai baru, renovasi, serta peningkatan teknologi.
Related News
YOII Dapat Lampu Hijau Right Issue, Siap Tebar 684 Juta Saham Baru
Jual 2,9 Miliar Saham BNBR, Port Fraser Lepas di Harga Rp147 per Saham
Kelar Akuisisi ASLI, WKM Siapkan Dana Rp475 Miliar untuk Tender Wajib
Usai Emtek, Komut SCMA Adi Sariatmadja Ikut Aksi Borong Saham
Baru Saja Suspensi Dicabut, TAMA Kembali Senggol ARA
Lepas Dari Pengawasan BEI, EURO Langsung Ngegas





