EmitenNews.com - Indeks Wall Street menyudah perdagangan pekan lalu mixed. Namun, ditutup menguat secara mingguan dengan kinerja terbaik sejak November 2025. Penguatan selama pekan lalu, dipicu koreksi harga minyak mentah karena harapan akan berakhirnya konflik antara Amerika Serikat (AS) vs Iran. 

Meski data inflasi CPI meningkat pada level tertinggi sejak Mei 2024 di kisaran 3,3 persen YoY Maret 2026, masih sesuai estimasi. Indeks Michigan Consumer Sentiment turun 11 persen menjadi 47.6 edisi April 2026, merupakan rekor terendah akibat kekhawatiran kenaikan harga energi sebagai dampak perang Iran.

Perkembangan gencatan senjata AS-Iran masih menjadi fokus perhatian utama bagi pasar global. Itu menyusul negosiasi di Islamabad, Pakistan selama akhir pekan lalu, tidak mencapai kesepakatan. Kondisi itu, membahayakan gencatan senjata selama dua pekan. Delegasi AS menyebut Iran tidak menerima persyaratan untuk berkomitmen menyudahi senjata nuklir.

Sedang media Iran menyebut ada beberapa perbedaan sebagai penyebab kegagalan kesepakatan, termasuk penarikan material  nuklir, dan pembukaan kembali Selat Hormuz.  Kala perundingan berlangsung, beberapa kapal tanker mengangkut minyak mentah mulai melintasi Selat Hormuz.

Trump mengumumkan Angkatan Laut AS akan memblokade Selat Hormuz, dan mencegat kapal apa pun yang membayar biaya penyeberangan ke Iran. Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal menyeret 18 emiten keluar dari peredaran pasar berlaku efektif 10 November 2026. Sebelum delisting, emiten itu wajib melakukan buyback pada 11 Mei hingga 9 November 2026.

Investor diperkirakan mencermati saham-saham berpeluang membagi dividen dengan yield relatif tinggi. Secara teknikal, indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan berpeluang melanjutkan apresiasi. Sepanjang perdagangan hari ini, Senin, 13 April 2026 akan menguji level 7.500-7.600.

Menilik data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan investor untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Bank BCA (BBCA), Bank BRI (BBRI), Mayora Indah (MYOR), Indosat Ooredoo (ISAT), XL Axiata (EXCL), dan Bank Syariah Indonesia alias BSI (BRIS). (*)