Paradoks Valuasi RMKO yang Melambung di Tengah Tekanan Likuiditas
PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO). Dok. IDX Channel
EmitenNews.com - PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO), emiten yang berfokus pada penyediaan jasa penambangan serta kontraktor konstruksi infrastruktur logistik batubara, saat ini menyajikan sebuah anomali finansial yang signifikan di pasar modal Indonesia. Di tengah tren kenaikan harga saham yang agresif, laporan keuangan perusahaan justru menunjukkan kondisi "distress" jika dianalisis sebagai entitas mandiri. Fenomena ini dipicu oleh pemisahan total (decoupling) antara nilai pasar dengan efisiensi operasional, di mana defisit arus kas ditutup melalui dukungan likuiditas internal grup yang kini mulai mendekati batas atas (ceiling) yang ditetapkan oleh kreditur eksternal.
Kompresi Margin Struktural: Gap Operasional 118 Persen
Berdasarkan data laporan keuangan per 30 September 2025, RMKO mengalami gangguan serius pada efisiensi biaya. Perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar Rp219,38 miliar, namun beban pokok pendapatan membengkak secara tidak proporsional menjadi Rp260,71 miliar. Secara fundamental, ini menghasilkan rasio biaya terhadap pendapatan sebesar 118,8 persen.
Artinya, RMKO kehilangan Rp0,18 untuk setiap Rp1 pendapatan yang dihasilkan sebelum menghitung beban pajak dan administrasi. Kondisi "leverage operasional negatif" ini menunjukkan bahwa model bisnis perusahaan saat ini yang sangat bergantung pada transaksi dengan pihak berelasi (mencapai 84% dari total pendapatan) belum mampu menutupi biaya produksi langsung, sehingga menciptakan pembakaran modal (capital burn) di level operasional paling dasar.
Erosi Ekuitas dan Defisit Saldo Laba
Dampak dari kerugian di level kotor tersebut menjalar hingga ke laba bersih tahun berjalan yang anjlok menjadi minus Rp51,31 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar minus Rp10,16 miliar. Akumulasi kerugian yang kian dalam ini telah menghapus cadangan laba perusahaan, sehingga menghasilkan saldo laba (retained earnings) negatif sebesar Rp38,69 miliar.
Konsekuensinya, total ekuitas perusahaan tergerus dari Rp227,58 miliar pada akhir 2024 menjadi hanya Rp176,26 miliar dalam kurun waktu sembilan bulan. Bagi investor, erosi modal ini merupakan sinyal risiko tinggi karena menunjukkan bahwa perusahaan belum mampu menghasilkan nilai tambah secara organik dan keberlangsungan usahanya sangat bergantung pada injeksi modal atau utang baru
Eksposur Kredit Afiliasi yang Terpusat
Untuk menutupi defisit arus kas operasional yang mencapai Rp84,75 miliar (negatif), RMKO bersandar sepenuhnya pada dukungan likuiditas dari entitas berelasi atau grup induk. Akun "Utang lain-lain kepada pihak berelasi" melonjak drastis sebesar 155,5%, dari Rp74,24 miliar pada Desember 2024 menjadi Rp189,72 miliar pada September 2025.
Meskipun pinjaman ini bersifat tanpa bunga dan berfungsi sebagai penyangga likuiditas, ketergantungan ini menciptakan risiko kredit yang terpusat. Keberlangsungan operasional RMKO tidak lagi ditentukan oleh kemampuannya mencetak laba, melainkan oleh kemauan dan kemampuan grup (RMK Group) untuk terus memberikan dukungan pendanaan jangka pendek di tengah kondisi operasional yang belum sehat.
"Plafon" Likuiditas: Kendala Kovenan Bank Victoria
Salah satu risiko paling kritikal yang sering terlewatkan adalah batasan hukum dari kreditur eksternal. Fasilitas pinjaman yang diterima RMKO dari PT Bank Victoria International Tbk memiliki kovenan yang membatasi perusahaan untuk menambah beban utang baru.
Ini menciptakan hambatan strategis yang serius. Di saat operasional perusahaan terus membakar kas, akses menuju pendanaan eksternal tambahan menjadi sangat terbatas akibat kovenan bank tersebut. Jika aliran dana dari pihak afiliasi tersendat atau jika kebijakan grup berubah, RMKO akan menghadapi tantangan likuiditas yang akut karena tidak memiliki fleksibilitas untuk mencari sumber pendanaan pihak ketiga secara bebas guna menutupi kebutuhan modal kerja.
Fenomena Decoupling dan Spekulasi Ekosistem
Anomali terbesar muncul ketika data fundamental ini disandingkan dengan performa saham di bursa. Harga saham RMKO mengalami kenaikan tajam yang tidak disertai perbaikan kinerja keuangan. Pasar tampaknya melakukan valuasi berdasarkan "narasi ekosistem" RMK Energy (RMKE) dan proyek infrastruktur batubara di Sumatera Selatan, bukan berdasarkan kapasitas RMKO sebagai entitas mandiri.
Secara spesifik, harga saham RMKO melonjak drastis sebesar 133% hanya dalam hitungan hari, bergerak dari level kisaran Rp740 pada pertengahan Januari 2026 hingga menyentuh level Rp1.730 pada penutupan 23 Januari 2026. Lonjakan di tengah kerugian yang melebar ini menciptakan risiko pembalikan harga yang tajam (mean reversion). Investor yang masuk di harga tertinggi saat ini terpapar pada risiko penurunan modal yang signifikan jika pasar mulai melakukan penyesuaian terhadap realitas neraca perusahaan yang semakin rapuh.
Kesimpulan Due Diligence bagi Investor
Related News
Ketika Valuasi PTRO Terbentur Tekanan Likuiditas dan Lonjakan Biaya
Emas ATH Gelembung Spekulasi atau Bukti Runtuhnya Sistem Moneter Fiat?
Mengapa Pendapatan MDKA Turun Tapi Laba Melompat dan Saham Meroket?
Apakah INET Adalah Jawaban Atas Dahaga Infrastruktur Digital Bangsa?
Mampukah Rekor IHSG 9.174 Bertahan dari Tekanan Gravitasi Rupiah?
Bukan Sekadar Yogurt, Kanzler Jadi Lokomotif Utama Pertumbuhan CMRY





