EmitenNews.com - Pergerakan bursa saham Jepang berlangsung tanpa arah yang jelas pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Kondisi ini terjadi seiring berlanjutnya lonjakan nilai tukar yen ke level terkuat sejak Februari 2026, yang membayangi prospek kinerja emiten berorientasi ekspor.

Indeks Nikkei 225 tercatat menguat tipis 0,4% ke level di atas 66.700. Namun, Indeks Topix yang mencakup cakupan saham lebih luas justru terkoreksi 0,6% ke kisaran 4.100.

Trading Economics melaporkan, laju penguatan yen menekan ekspektasi pendapatan para eksportir Jepang sekaligus membuat harga aset-aset domestik menjadi lebih mahal bagi pemodal asing.

Selain sentimen nilai tukar, investor di pasar keuangan regional juga mencermati potensi kenaikan suku bunga acuan oleh Bank of Japan (BOJ). Prospek pengetatan moneter ini didukung oleh indikator ekonomi domestik yang menguat, ditandai oleh lonjakan upah pekerja periode Juli dengan laju tercepat sejak 1997 serta revisi naik PDB kuartal II 2026.

Pasar saham global juga dibayangi oleh tingginya harga minyak dunia menyusul eskalasi konflik antara AS dan Iran, yang memicu ancaman inflasi tinggi.

Sentimen dari bursa Tokyo ini turut memengaruhi dinamika pasar modal Indonesia, terutama terkait pergerakan arus modal portofolio asing di kawasan Asia Pasifik serta dampaknya terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada jajaran saham individual, pergerakan harga berada di dua arah berbeda. Kenaikan signifikan dicatatkan oleh SoftBank Group yang naik 4,1%, Advantest 1,4%, dan Fujikura yang melonjak 91,1%. Sebaliknya, saham berbasis komponen dan manufaktur tertekan, seperti Taiyo Yuden yang turun 5,4%, Murata Manufacturing tergerus 4,8%, dan Ibiden Co merosot 2,4%.(*)