Perang Berlanjut, IHSG Susuri Zona Merah
:
0
Suasana main hall Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street ditutup bervariasi dengan mayoritas melemah. Itu dipicu kekhawatiran investor terhadap kemungkinan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak berujung lama. Berdasar skenario, gencatan senjata disepakati berlangsung selama dua pekan.
Presiden AS Donald Trump menyebut Iran tidak mempunyai kartu selain memeras dunia dalam jangka pendek dengan memanfaatkan jalur perairan Internasional. Satu-satunya alasan Iran masih ada hingga detik ini untuk bernegosiasi. Pernyataan itu, muncul setelah Trump memperingatkan Iran tidak memungut fee kapal pengangkut minyak di selat Hormuz.
Sementara itu, di tengah gejolak harga minyak mentah, Inflasi Maret 2026 sesuai ekspektasi yaitu naik 0,9 persen mom, dan surplus 3,3 persen yoy. Kenaikan inflasi itu, terutama dipicu lonjakan harga energi 10,9 persen. Itu seiring terjadinya konflik di Timur Tengah makin memanas.
Koreksi mayoritas indeks bursa Wall Street, dan langkah AS akan memblokade Selat Hormuz usai gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan di Pakistan akan menjadi sentimen negatif bagi indeks harga saham gabungan (IHSG). So, indeks diprediksi akan bergerak melemah.
Sepanjang perdagangan hari ini, Senin, 13 April 2026, indeks akan menyusuri kisaran support 7.325-7.190, dan resistance 7.590-7.725. Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan sejumlah saham berikut sebagai jujukan koleksi yaitu Alamtri (ADRO), Japfa (JPFA), Bank BRI (BBRI), Astra (ASII), Erajaya (ERAA), dan AKR Corporindo (AKRA). (*)
Related News
Pernah Impor 7 Juta Ton, Stok Beras Bulan Ini Tembus 5 Juta Ton
IHSG Sempat Dibuka Drop, Imbas Tekanan Rupiah dan Global
Punya Multiplier Effect Besar, Industri Motor Listrik Jadi Prioritas
Musim Dividen, Borong Saham BBRI, BRIS, EXCL, dan ISAT
IHSG Lanjut Menguat, Ini Kata Analis
IHSG Rebound dalam Sepekan, Analis Prediksi Konsolidasi Lanjutan





