EmitenNews.com - Produksi industri dan penjualan ritel China mencatatkan pertumbuhan terkuat dalam enam bulan terakhir pada September 2026. Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (19/10), lonjakan dua indikator utama ini menopang pertumbuhan ekonomi Tiongkok sebesar 1,2 persen secara kuartalan pada kuartal ketiga 2026.

Penjualan ritel Tiongkok tumbuh 1,1 persen secara tahunan pada September 2026, naik dari kenaikan 0,4 persen pada Agustus dan melampaui perkiraan pasar sebesar 0,5 persen. Penguatan ini didorong oleh lonjakan penjualan peralatan komunikasi sebesar 31,1 persen, diikuti produk tembakau dan alkohol yang naik 13,8 persen, serta bahan makanan yang tumbuh 6,7 persen.

Pada saat yang sama, produksi industri Tiongkok meningkat 5,5 persen secara tahunan pada September 2026, lebih cepat dari capaian Agustus sebesar 5,2 persen. Pertumbuhan manufaktur tercatat pada 31 dari 41 industri utama, dipimpin oleh sektor peralatan komputer dan komunikasi yang melonjak 16,4 persen serta peralatan khusus sebesar 12,1 persen.

Pemulihan sektor industri dan konsumsi juga berdampak positif pada pasar tenaga kerja. Tingkat pengangguran perkotaan yang disurvei di China menurun menjadi 5,2 persen pada September 2026 dari posisi bulan sebelumnya sebesar 5,3 persen, dengan jumlah pekerja migran pedesaan mencapai 192,7 juta orang.

Meski menunjukkan tren penguatan, otoritas statistik Tiongkok mengingatkan risiko ketidakpastian global yang masih membayangi laju pemulihan.

"Lingkungan internasional tetap bergejolak dan permintaan domestik tidak mencukupi, menyoroti perlunya dukungan lebih lanjut untuk mendukung pertumbuhan," kata Wakil Direktur Biro Statistik Nasional Mao Shengyong.

Capaian rekor produksi industri dan penjualan ritel China ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian Indonesia. Sebagai salah satu mitra dagang terbesar, menggeliatnya aktivitas pabrik dan konsumsi di Tiongkok berpotensi meningkatkan permintaan terhadap komoditas ekspor serta memperkuat neraca perdagangan Indonesia.(*)