Prof Didik: Krisis Harga Minyak Momentum Perkuat Sektor SDA
:
0
Didik melihat dalam menghadapi krisis, Indonesia memiliki keunggulan struktural dalam sektor berbasis sumber daya alam karena sektor ini mampu berperan sebagai sebagai “shock absorber” saat terjadi krisis energi global.(Foto: Dok)
EmitenNews.com - Ekonom senior Prof Didik J Rachbini melihat diskusi di media sosial soal dampak krisis harga minyak akibat perang AS-Israel vs Iran cukup tajam. Padahal guncangan global dari fluktuasi harga minyak sudah berkali terjadi sejak masa Soeharto, Gusdur, SBY sampai Jokowi.
"Perspektif kita harus out of the box bahwa di balik krisis juga ada peluang. Kita harus memanfaatkan krisis harga minyak untuk penguatan sektor natural hedge atau sumberdaya alam kita," kata Ekonom Indef ini dalam analisisnya yang diterima EmitenNews.
Didik melihat dalam menghadapi krisis, Indonesia memiliki keunggulan struktural dalam sektor berbasis sumber daya alam karena sektor ini mampu berperan sebagai sebagai “shock absorber” saat terjadi krisis energi global. Menurut dia kebijakan yang tepat akan menentukan apakah sektor-sektor ini hanya menjadi penyelamat jangka pendek atau justru menjadi fondasi transformasi ekonomi jangka panjang.
"Krisis harga minyak ini jelas di hadapan mata akan menekan perekonomian Indonesia melalui peningkatan biaya energi, tekanan fiskal subsidi, dan pelemahan nilai tukar," katanya.
Rektor Universitas Paramadina ini menilai di balik tekanan yang ada terdapat sejumlah sektor yang justru menunjukkan ketahanan (resilience) bahkan menjadi pemenang (winner) dalam kondisi tersebut. Sektor-sektor tersebut meliputi sektor pertambangan batubara, minyak bumi, gas, dan panas bumi, bijih logam (nikel, timah, bauksit) dan perkebunan (CPO dan karet).
Semua sektor tersebut basis inputnya domestik rupiah tetapi outputnya ekspor menghasilkan valuta asing, dollar, yen atau yuan, yang sekaligus keuntungan dari depresiasi nilai tukar.
"Kita harus membuat kebijakan dan memberikan rekomendasi strategis untuk mengoptimalkan momentum tersebut guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional," tegasnya.
Impor minyak mentah dan BBM sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak global, lalu berakibat pada tekanan transaksi berjalan, beban subsidi di dalam fiskal besar dan ada dampak deresiasi rupiah. Tetapi pada saat yang sama, sektor berbasis sumber daya alam (SDA) tertentu justru mengalami windfall effect dan pada masa SBY ketika harga minyak naik tinggi justru sektor ini mampu mendorong ekonomi tumbuh tinggi sekitar 6,5 persen.
Menurutnya ini terjadi karenan memanfaatkan harga komoditas global ikut naik dengan permintaan ekspor meningkat. Karena depresiasi otomatis meningkatkan daya saing ekspor semakin kuat.
Apa saja sektor yang resilien dan peluang natural “Natural Hedge” yang menguntungkan? Pertama adalah pertambangan Batubara, yang merupakan substitusi langsung terhadap energi minyak di dalam negeri. Permintaan global meningkat saat harga minyak tinggi menjadi peluang meningkatkan devisa dan penerimaan negara sebagai windfall tas.
Related News
Eksportir Komoditas Disidik Polisi Dugaan Under Invoicing, Emiten BEI?
Namanya Masuk Daftar Pengusaha Nakal, Wilmar Siapkan Klarifikasi
8 Bulan Dilarang Kini Udang Indonesia Bisa Masuk Pasar Arab Saudi Lagi
Awas! Pabrik Sawit Beli TBS Murah, Siap-siap Terima Sanksi Berat
Harga Minyak Sangat Fluktuatif, Pengaruhi Melemahnya Kurs Rupiah
Masih Tertekan, Rupiah Makin Dekati ke Level Rp17.900 per Dolar AS





