Program Biodiesel Sebagai Ketahanan Energi, Hemat Devisa Negara Rp720T
Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026: Dukungan Program Biodiesel Bagi Kemandirian Energi dan Perekonomian Indonesia yang digelar di Depok, dari 5-6 Februari 2026. Kegiatan ini didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai bagian dari upaya peningkatan literasi publik terkait program biodiesel nasional. Dok. Ist.
EmitenNews.com - Sepanjang 2015–2025 program biodiesel telah menghemat devisa negara hingga Rp720 triliun dan menurunkan emisi sekitar 228 juta ton CO?. Jadi, program biodiesel berbasis kelapa sawit terus menunjukkan kontribusi nyata bagi ketahanan energi nasional sekaligus perekonomian Indonesia.
Data yang ada menunjukkan sejak dijalankan secara bertahap lebih dari dua dekade terakhir, konsumsi biodiesel melonjak signifikan, menghasilkan penghematan devisa ratusan triliun rupiah dan menekan emisi karbon.
Itulah semua yang mengemuka dalam Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026: Dukungan Program Biodiesel Bagi Kemandirian Energi dan Perekonomian Indonesia yang digelar di Depok, dari 5-6 Februari 2026. Kegiatan ini didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai bagian dari upaya peningkatan literasi publik terkait program biodiesel nasional.
Dalam keterangannya yang dikutip Kamis (26/2/2026), Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Qayuum Amri, menjelaskan bahwa riset biodiesel sawit telah dimulai sejak 1990-an oleh sejumlah peneliti nasional. Gagasan tersebut kemudian diperkuat melalui kebijakan mandatori pemerintah sejak 2009.
“Hari ini hasilnya sangat terasa. Konsumsi biodiesel yang pada 2009 baru sekitar 1 juta kiloliter, kini sudah mencapai sekitar 15 juta kiloliter. Artinya naik lebih dari 1.100 persen,” ujarnya.
Sepanjang 2015–2025 program biodiesel telah menghemat devisa negara hingga Rp720 triliun dan menurunkan emisi sekitar 228 juta ton CO?. Menurutnya, capaian tersebut menegaskan bahwa sawit tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga memberi manfaat lingkungan.
“Masih ada anggapan program ini hanya menguntungkan segelintir pihak. Faktanya justru sebaliknya. Dampaknya besar bagi tenaga kerja, petani, hingga harga tandan buah segar (TBS),” katanya.
Untuk meningkatkan literasi publik, panitia melakukan field trip ke SBRC IPB University agar para jurnalis belajar dan mengenal pengembangan riset produk biofuel.
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memiliki peranan kuat dalam ekosistem sawit melalui berbagai program pendanaan sekaligus menjadi salah satu pendukung terselenggaranya workshop ini. Perwakilan BPDP, Ahmad Zuhdi, mengatakan lembaganya tak hanya mendukung insentif biodiesel, tetapi juga pendidikan, riset, dan peremajaan kebun rakyat.
Pada 2025, BPDP menyalurkan sekitar 4.000 beasiswa bagi mahasiswa di seluruh Indonesia. Juga membiayai penelitian produktivitas sawit, membantu program peremajaan perkebunan, hingga penyediaan sarana prasarana pertanian.
Lalu, untuk program biodiesel, BPDP menanggung selisih harga antara solar dan biodiesel sebagai insentif. Hingga akhir 2025, dukungan untuk sektor PSO mencapai 6,9 juta kiloliter dengan nilai sekitar Rp35,5 triliun.
“Dana ini berasal dari pungutan ekspor sawit dan dikelola kembali untuk mendukung keberlanjutan industri,” jelasnya.
Anggota DEN Fadhil Hasan menegaskan biodiesel kini menjadi bagian penting kebijakan energi lintas sektor
Sementara itu, anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Fadhil Hasan, menegaskan biodiesel kini menjadi bagian penting kebijakan energi lintas sektor. Ia baru saja dilantik sebagai anggota DEN bersama perwakilan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
Fadhil menyebutkan, pemerintah telah menerbitkan Kebijakan Energi Nasional terbaru melalui PP No. 40 Tahun 2025 sebagai pengganti aturan lama. Regulasi ini disusun untuk menjawab tantangan turunnya produksi minyak, meningkatnya impor, serta kebutuhan energi yang terus naik seiring target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
“Biodiesel berperan strategis dalam swasembada energi. Sawit dan turunannya menjadi sumber energi terbarukan sekaligus mendukung ketahanan pangan,” ujarnya.
Sepanjang tahun lalu, realisasi biodiesel tercatat 14,2 juta kiloliter dan berhasil mengurangi impor solar sekitar 3,3 juta kiloliter. Capaian tersebut dinilai memberi kontribusi langsung terhadap indeks ketahanan energi nasional.
Related News
BP Tapera Catat Realisasi FLPP 19.741 Rumah Subsidi Jangkau 339 Daerah
Kopdes Merah Putih Tumbuh di Desa, Soal Minimarket Ini Kata Pemerintah
Kesepakatan Dagang AS-RI, AYAM Jadi Salah Satu Pengimpor GP
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 Per Gram
Menkeu: Sidang Hambatan PSN Beri Sentimen Positif Bagi Dunia Usaha
Dirjen IKMA Apresiasi Inovasi Boneka Trilili Binaan Yayasan Astra





