Selain mendapatkan transportasi gratis, para pemudik juga memperoleh makanan selama perjalanan. Rombongan bus juga mendapat pengawalan dari kepolisian hingga tiba di Sumatera Barat. Dari berangkat sampai ke Sumatera Barat dikawal langsung oleh aparat Polda Sumatera Barat.

Dalam program itu,  terdapat dua titik pemberhentian utama bagi para pemudik, yakni di depan Masjid Raya Sumatera Barat di Padang serta di Lapangan Kantin Kota Bukittinggi. Meski demikian, pemudik tetap diperbolehkan turun di wilayah lain sepanjang rute perjalanan.

Dari total 250 bus yang disiapkan, sekitar 100 bus diberangkatkan lebih dulu, sedangkan 150 bus lainnya dijadwalkan berangkat pada 15 Maret 2026. Ia menyebut peserta keberangkatan pertama mayoritas mahasiswa, sedangkan gelombang berikutnya didominasi pekerja.

Program mudik ini turut membantu perekonomian Sumatera Barat karena perantau yang pulang kampung akan membawa uang dan berbelanja di daerah asal.

“Sumatera Barat pertumbuhan ekonominya hanya 3 persen, inflasi 6 persen. Selama ini ekonomi terbantu karena perantau Minang selalu mengirimkan uang sekitar Rp20 triliun per tahun,” kata Andre Rosiade. ***