EmitenNews.com - Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup menguat 2,34 persen menjadi 7.675. Secara teknikal, MACD berlanjut menguat, dan Stochastic RSI bergerak area overbought. Alhasil, Indeks membentuk gap di area 7.527. 

Dengan demikian, Indeks berpotensi menguji level resistance lanjutan 7.700. Kalau mampu bertahan di atas 7.700, maka Indeks berpeluang menerobos level MA50 sekitar level 7.800. Namun, perlu mulai waspada potensi profit taking jangka pendek, mengingat indeks sudah masuk overbought.  

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis dua roadmap strategis 2026-2030 untuk memperdalam pasar keuangan domestik, yaitu pengembangan pasar derivatif dan pasar modal berkelanjutan. Pengembangan pasar derivatif fokus pada pelindungan investor, harmonisasi pengawasan, dan peningkatan infrastruktur untuk menciptakan pasar yang likuid dan efisien. 

Roadmap pasar modal berkelanjutan menargetkan penguatan instrumen berbasis ESG untuk mendukung net zero emission Indonesia, dengan pilar utama berupa kebijakan, diversifikasi produk, insentif, dan kolaborasi. International Monetary Fund (IMF) menyatakan gangguan di Selat Hormuz telah memicu kenaikan harga minyak, dan gas secara signifikan.

Kondisi itu, berdampak langsung terhadap beban biaya impor terutama pada negara-negara berkembang. IMF memperingatkan jika konflik masih berlangsung berkepanjangan, pertumbuhan ekonomi global berpeluang melemah hingga level 2 persen yang mengindikasikan kondisi resesi global. IMF juga memperingatkan risiko kemunculan stagflasi. 

Berdasar data dan fakta tersebut, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, TBS Energi Utama (TOBA), Essa Industries (ESSA), timah (TINS), Harum Energy (HRUM), dan Elnusa (ELSA). (*)