EmitenNews.com - Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Mohamad Hekal, menegaskan tidak ada tenggat waktu maupun target khusus bagi Bank Indonesia untuk membawa nilai tukar rupiah kembali ke level tertentu. Menurutnya, yang terpenting adalah menjaga stabilitas pergerakan rupiah melalui koordinasi erat antara kebijakan fiskal dan moneter.

Pernyataan tersebut disampaikan Hekal usai menghadiri rapat koordinasi ekonomi bersama Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Kompleks Parlemen, Jakarta, Sabtu (6/6/2026).

Pernyataan itu sekaligus merespons proyeksi Perry Warjiyo yang sebelumnya memperkirakan rupiah berpotensi menguat pada Juli hingga Agustus 2026 seiring dukungan faktor domestik dan global.

"Saya rasa tidak ada deadline spesifik seperti itu. Itu lebih merupakan dorongan politik. Yang ingin kita lihat adalah stabilitas di dalam pergerakan kurs rupiah," ujar Hekal.

Menurutnya, level Rp18.000 per dolar AS yang sempat menjadi perhatian pasar lebih banyak dipengaruhi faktor psikologis dan sentimen dibandingkan pelemahan fundamental ekonomi nasional. Ia menilai sejumlah indikator ekonomi justru menunjukkan perbaikan dalam beberapa bulan terakhir.

"Angka Rp18.000 ini dianggap sebagai angka psikologis oleh banyak pihak. Namun menurut kami, ini lebih banyak didorong oleh sentimen. Buktinya, setelah pengumuman APBN triwulan I, kondisi ekonomi dari bulan ke bulan justru semakin membaik," katanya.

Hekal menilai tantangan terbesar saat ini berasal dari faktor eksternal sehingga koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi sangat penting untuk menjaga kepercayaan pasar serta stabilitas nilai tukar.

Ia menjelaskan pemerintah dapat berfokus memperkuat kebijakan fiskal, sementara Bank Indonesia menjaga stabilitas moneter dan inflasi. Sinergi kedua instrumen tersebut dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Komisi XI DPR RI juga berharap koordinasi fiskal dan moneter yang semakin erat dapat memberikan sinyal positif kepada pelaku pasar bahwa stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.