Rupiah Merosot Lagi ke Rp17.753, Lima Hari Berturut-Turut
:
0
Potret mata uang rupiah dan dolar.
EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Ini sekaligus menjadi pelemahan dalam lima hari berturut-turut sejak 11 September lalu.
Dari data JISDOR Bank Indonesia, mata uang rupiah sempat menguat ke level Rp17.536 pada 10 September. Namun keesokan harinya, berangsur-angsur kembali merosot ke level Rp17.611 hingga penutupan perdagangan hari ini di level Rp17.753.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa mata uang Garuda melemah 57 poin, setelah sebelumnya melemah 60 poin ke level Rp17.696.
Pelemahan rupiah terjadi seiring Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan secara bulat untuk menaikkan suku bunga acuan federal funds rate ke kisaran 3,75% hingga 4,0% pada hari Rabu. Menurut Ibrahim, hal itu merupakan kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS sejak Juli 2023.
Di samping itu, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kembali kekhawatirannya mengenai inflasi, dengan menyatakan bahwa terlalu banyak kategori produk dan layanan yang menunjukkan kenaikan harga tahunan di atas 3% dalam periode 6 dan 12 bulan.
“Warsh mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut pada suku bunga dalam beberapa bulan mendatang,” kata Ibrahim kepada EmitenNews, Kamis (17/9).
Di tengah kenaikan suku bunga itu, presiden AS Donald Trump justru menuntut bank Sentral AS emmangkas suku bunga menjadi 1% atau bahkan lebih rendah. Tepat beberapa jam setelah The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga pertamanya sejak 2023.
“Ini menandakan bahwa gesekan yang terus berlanjut antara Gedung Putih dan The Fed yang independen,” lanjut Ibrahim.
Sementara dari sisi domestik, ruang bagi Bank Indonesia kembali mengerek suku bunga acuan kian menyempit menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG). Rapat rutin tersebut dijadwallkan pada 22-23 September 2026.
“Langkah agresif BI sebelumnya dinilai menjadi alasan utama mengapa bank sentral tak perlu lagi tergesa-gesa memutar kemudi moneter. Manuver BI yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin merupakan langkah pre-emptive yang sangat presisi, bahkan melampaui agresivitas bank sentral Amerika Serikat (The Fed),” pungkas Ibrahim.
Related News
Harga Emas Antam Naik Meski Pasar Global Tertekan Bunga The Fed
Indeks Dolar Tembus Level Tertinggi Usai Suku Bunga AS Naik
Rupiah Pagi ini Dibuka Melemah Pasca Fed Naikkan Suku Bunga
Saham AS Bangkit Usai Tertekan Keputusan The Fed
Pipa Saudi Pulih, Harga Minyak Brent Turun ke USD105,5 per Barel
Kecewa Fed, Trump Minta Suku Bunga Turun di Bawah 1%





