EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan awal pekan dengan nada positif, Senin (27/4/2026), setelah sebelumnya tertekan dalam beberapa sesi terakhir.

Pada pembukaan, IHSG menguat 71,53 poin atau 1 persen ke level 7.201,02, melanjutkan upaya rebound di tengah tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda. Tepat 4 menit berjalan IHSG sentuh kenaikan 1,39 persen setara 99,21 poin di 7.228,70.

Pergerakan awal ini ditopang oleh dominasi saham menguat, dengan 374 saham naik, 189 melemah, dan 396 flat. Aktivitas pasar juga terbilang ramai, tercermin dari nilai transaksi yang mencapai Rp1.956,7 miliar dengan volume 1,56 miliar saham dalam 119.500 kali transaksi. Seiring itu, kapitalisasi pasar meningkat menjadi Rp12.883 triliun.

Meski demikian, bayang-bayang tekanan global masih terasa. Tim riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia dalam terbitannya Senin (27/4) mencatat kenaikan risk premium minyak menjadi salah satu faktor yang membebani sentimen.

Harga minyak Brent dilaporkan telah mendekati USD107 per barel, dipicu mandeknya diplomasi antara AS dan Iran yang kembali meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan di kawasan strategis Selat Hormuz.

Beranjak ke sisi lain, pasar global justru menunjukkan kontras. Indeks saham utama Amerika Serikat seperti S&P 500 dan Nasdaq Composite masih mencetak rekor penutupan tertinggi, menandakan risk appetite global belum sepenuhnya surut. Namun, kondisi ini belum sepenuhnya menular ke pasar domestik yang tengah mengalami fase de-risking.

Tekanan tersebut terlihat dari aksi jual investor asing yang masih deras. Pada perdagangan sebelumnya Junat (24/4), outflow mencapai sekitar Rp3 triliun, dengan tekanan jual terbesar terjadi pada saham BBCA. Arus dana keluar ini berpotensi menjaga volatilitas IHSG tetap tinggi dalam jangka pendek.

Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan terbatas. Level support berada di kisaran 7.100 hingga 7.014, sementara resistance terdekat di rentang 7.244 hingga 7.346. Kenaikan harga minyak yang terus berlanjut dinilai menjadi overhang utama karena berpotensi mendorong inflasi dan menekan stabilitas nilai tukar rupiah.

Tim riset Mirae berdalih, penguatan IHSG di awal pekan lebih mencerminkan technical rebound, sementara arah pergerakan selanjutnya masih sangat dipengaruhi oleh dinamika global dan arus dana asing. (*)