EmitenNews.com - Samuel Sekuritas Indonesia merevisi turun proyeksi pertumbuhan agregat laba sektor perbankan pada 2026 menjadi 1,8%, dari sebelumnya 4,6%.

Revisi tersebut dilakukan seiring meningkatnya tekanan terhadap margin bunga bersih (NIM) dan biaya kredit di tengah kondisi makro yang semakin menantang.

Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi mengatakan, kombinasi pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya suku bunga menjadi tantangan utama yang diperkirakan membayangi kinerja industri perbankan pada paruh kedua tahun ini.

“Secara tahunan, kinerja bank masih terlihat resilien. Namun, investor perlu melihat lebih jauh ke paruh kedua tahun ini, karena tekanan dari suku bunga tinggi, pelemahan rupiah, dan potensi kenaikan biaya kredit masih menjadi tantangan bagi sektor perbankan,” ujar Prasetya dalam Media Connect di Menara Imperium Jakarta, Jumat (3/7).

Ia menjelaskan, rupiah yang sempat berada di atas level Rp17.700 per dolar AS, bahkan menyentuh sekitar Rp18.178 pada 8 Juni, serta kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 100 basis poin menjadi 5,75% berpotensi menekan sektor perbankan melalui kenaikan biaya dana, penyusutan margin bunga bersih, hingga meningkatnya risiko kualitas aset.

“Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendorong kenaikan cost of funds. Jika repricing dana pihak ketiga bergerak lebih cepat dibandingkan aset produktif, margin bank akan tetap berada dalam tekanan. Di saat yang sama, biaya pinjaman yang lebih tinggi juga dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur,” jelas Prasetya.

Sejalan dengan revisi proyeksi laba tersebut, Samuel Sekuritas juga menurunkan rekomendasi sektor perbankan untuk 12 bulan ke depan menjadi Neutral dari sebelumnya Overweight. Meski demikian, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tetap menjadi pilihan utama atau top pick dengan target harga Rp6.000 per saham atau mencerminkan potensi kenaikan sekitar 54% dari posisi harga saat laporan disusun.

Di tengah tekanan tersebut, Samuel Sekuritas masih melihat kinerja bank-bank besar relatif tangguh. Laba bersih kelompok Big Four atau Big Banks diproyeksikan tumbuh sekitar 7% secara tahunan pada kuartal II-2026 dan 9% pada semester I-2026. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP), pendapatan bunga bersih, serta pendapatan nonbunga yang masih menunjukkan tren positif.

Prasetya menambahkan, BMRI diperkirakan menjadi kontributor utama pertumbuhan laba sektor dengan proyeksi kenaikan laba bersih sebesar 16% secara tahunan pada semester I-2026, sedangkan BBCA diperkirakan tumbuh sekitar 3%.

“Pertumbuhan laba masih ada, terutama dari bank-bank yang mampu menjaga pendapatan bunga dan pendapatan non-bunga. Namun, tantangan utama ke depan adalah bagaimana bank menjaga margin, mengelola biaya dana, dan mempertahankan kualitas aset di tengah kondisi makro yang lebih ketat,” tutup Prasetya.