EmitenNews.com - Kinerja PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) pada semester pertama 2024 mencatatkan tekanan signifikan, dengan rugi bersih sebesar USD 26,58 juta atau sekitar Rp 432,03 miliar. Penurunan ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah serta curah hujan yang tinggi di Indonesia dan Australia. 

"EBITDA kami juga turun 9% secara tahunan akibat cuaca ekstrem dan persiapan peningkatan operasional," jelas Direktur DOID, Dian Andyasuri, dalam paparan publik, Selasa (10/12).

Namun, Dian tetap optimistis menghadapi 2025. "Tahun depan akan menjadi peluang positif, didukung oleh akuisisi strategis yang kami yakini akan memberikan dampak besar," katanya dalam paparan publik hari ini, Selasa (10/12/24).

DOID terus memperkuat diversifikasi melalui akuisisi perusahaan tambang di Australia. Anak perusahaan tidak langsungnya, Bukit Makmur Mandiri Utama Pte. Ltd. (BUMA Singapore), baru-baru ini berinvestasi sebesar AU$ 62 juta (Rp 637,36 miliar) untuk memperoleh 229,9 juta saham baru 29Metals Limited. Saham tersebut memberikan Grup hak kepemilikan minoritas signifikan sebesar 19,9%.

Presiden Direktur Delta Dunia Group, Ronald Sutardja, menegaskan pentingnya diversifikasi ini sebagai bagian dari transformasi menuju future-facing commodities

“Transaksi ini memperkuat strategi kami untuk masa depan dan didukung oleh akuisisi signifikan yang telah berjalan, termasuk Dawson Complex di Australia dan Atlantic Carbon Group Inc. di AS," jelas Ronald.

Dengan investasi ini, Delta Dunia berhak mencalonkan satu direktur non-eksekutif di dewan 29Metals, yang dapat meningkat menjadi dua direktur jika kepemilikan saham melampaui 20%.

Langkah strategis ini sejalan dengan visi DOID untuk memanfaatkan peluang komoditas masa depan, terutama di tengah tantangan ekonomi global. Dengan akuisisi yang solid, perusahaan yakin mampu membalikkan kinerja dan mencatatkan pertumbuhan signifikan di tahun mendatang.