EmitenNews.com - Perum menargetkan penyerapan beras petani dalam semester pertama 2026 bisa mencapai 3 juta ton. Serapan sebesar itu dicanangkan guna menjaga stabilitas harga, serapan petani, dan keberlanjutan swasembada pangan nasional.

Dalam keterangannya yang dikutip Senin 912/1/2026), Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan secara keseluruhan pemerintah menargetkan penyerapan gabah petani setara beras sepanjang 2026 sebanyak 4 juta ton. Serapan sebanyak itu ditargetkan untuk penguatan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP), dengan 3 juta ton diupayakan terserap pada semester pertama 2026.

"Pada semester 1 target penyerapan beras 3 juta ton. Sisanya nanti semester 2. Target 4 juta ton, jadi semester 2 nya tinggal 1 juta nanti," kata Ahmad Rizal Ramdhani di Jakarta, Minggu (11/1/2026).

Sstok CBP pada awal tahun ini mencapai 3,2 juta ton lebih. Stok tersebut merupakan beras peralihan dari tahun 2025 ke 2026 yang saat ini tersimpan dengan aman di gudang-gudang BUMN pangan tersebu

Rizal optimistis realisasi penyerapan itu dapat dilakukan karena didukung pengalaman historis panen, kesiapan operasional, serta koordinasi lintas pemangku kepentingan hingga pemerintah daerah dan petani.

Puncak panen umumnya terjadi pada semester pertama, sedangkan semester kedua cenderung menurun 30 hingga 40 persen akibat faktor cuaca, terutama curah hujan tinggi musiman yang berulang secara tahunan. Karena itu, strategi penyerapan difokuskan sejak awal tahun. Gabah dibeli Rp6.500 per kilogram.

Perum Bulog juga menegaskan kesiapan menyerap gabah dan beras petani dengan berbagai kualitas, sepanjang memenuhi usia panen. Dengan begitu Bulog memastikan mutu hasil tetap terjaga dan tidak merugikan petani maupun konsumen. 

Panen gabah yang belum cukup umur berisiko menghasilkan beras mudah pecah, menurunkan kualitas, dan berdampak pada nilai jual, sehingga disiplin panen sangat penting bagi petani.

Karena itu, Bulog berharap dukungan penyuluh pertanian lapangan (PPL), Babinsa, dan Bhabinkamtibmas mendampingi petani agar memanen gabah sesuai usia panen. Ini penting demi menjaga kualitas dan serapan demi keberlanjutan swasembada pangan komoditas itu.

  1. Rizal juga mengaku optimistis apa yang ditargetkan dapat tercapai didukung riset, pengalaman historis, dan kesiapan lapangan, selama musim panen berjalan lancar tanpa gangguan cuaca ekstrem. ***