Taiwan di Puncak Rantai Pasok Teknologi: Apa yang Indonesia Bisa?
ilustrasi keunggulan vietnam atas indonesia. DOK/Depositphotos
Mengapa Tidak Indonesia?
- Ketiadaan Infrastruktur: Indonesia tidak memiliki fasilitas manufaktur chip canggih atau ekosistem semikonduktor yang dapat mendukung kebutuhan Apple dan Nvidia.
- Fokus pada Industri Lain: Pemerintah Indonesia saat ini lebih fokus pada pengembangan industri berbasis sumber daya alam, seperti pertambangan dan energi.
- Apa yang Bisa Dilakukan Indonesia?
Meskipun saat ini Indonesia belum menjadi pilihan utama bagi perusahaan teknologi tinggi, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk meningkatkan daya tariknya:
- Investasi dalam Infrastruktur Teknologi: Pemerintah perlu membangun fasilitas manufaktur khusus untuk semikonduktor, termasuk cleanrooms dan pusat R&D.
- Pengembangan Pendidikan STEM: Meningkatkan kualitas pendidikan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika untuk menciptakan tenaga kerja yang kompetitif.
- Regulasi yang Lebih Ramah Investor: Menyederhanakan proses perizinan dan memberikan insentif yang spesifik untuk industri teknologi tinggi.
Mengapa Taiwan, Bukan Indonesia?
Keputusan Nvidia dan Apple untuk lebih banyak berinvestasi di Taiwan dibandingkan Indonesia bukan hanya soal preferensi, tetapi juga karena faktor strategis yang mendalam. Taiwan menawarkan:
- Ekosistem semikonduktor yang terdepan di dunia.
- Infrastruktur dan tenaga kerja yang mendukung kebutuhan industri teknologi tinggi.
- Dukungan pemerintah yang kuat, termasuk perlindungan kekayaan intelektual dan insentif investasi.
Sebaliknya, Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Dengan potensi ekonomi yang besar, Indonesia memiliki peluang untuk menarik investasi teknologi tinggi di masa depan. Namun, ini membutuhkan komitmen jangka panjang untuk membangun infrastruktur, meningkatkan kualitas pendidikan, dan menciptakan kebijakan yang mendukung inovasi. keterampilan khusus yang sesuai dengan kebutuhan Nvidia dan Apple.
Related News
Menakar Dampak Aturan Baru Free Float 15 Persen Bursa Efek Indonesia
Pembekuan Izin Underwriter: Alarm Keras bagi Tata Kelola Pasar Modal
IPO Dulu, Masalah Kemudian: Ada Apa dengan Pengawasan OJK dan BEI?
Danantara Masuk Bursa, BPJS Tambah Porsi Saham: Akhir Era Dana Asing?
Seruan Serok Saham di Tengah Krisis: Logika vs Realitas Investor Ritel
Apakah Mundurnya Pejabat BEI dan OJK Sudah Menjawab Respons Publik?





