Temui Presiden, Chatib Basri Ungkap Saat Ini Beda dengan Krisis 1998
:
0
Ekonom Muhammad Chatib Basri. Dok Sumbawanews.
EmitenNews.com - Menghadap Presiden Prabowo Subianto, mantan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri membawa kabar gembira. Ekonom senior itu, menilai pelemahan rupiah saat ini berbeda dari krisis 1998. Perbedaan utama terletak pada rezim nilai tukar yang lebih fleksibel. Kurs rupiah kini sudah melewati Rp18.000 per USD.
Menkeu Purbaya juga sudah menegaskan Indonesia tidak menuju krisis seperti 1997 sampai 1998 di era Presiden Soeharto.
"Sekarang pertanyaannya adalah ini, selalu pertanyaan yang diajuin ke saya, sama enggak 1998 dengan 2026? My answer is no. Kenapa yang membedakan paling besar 1998 dengan 2026 itu adalah flexible exchange rate," kata Chatib di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Chatib menjelaskan, masyarakat pada 1998 belum terbiasa dengan rezim nilai tukar fleksibel. Akibatnya, saat rupiah jatuh, banyak orang tetap meminjam dana dalam dollar Amerika Serikat (AS), padahal pendapatan mereka dalam rupiah.
Kondisi itu kemudian mendorong kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Chatib mengatakan, saat ini yang terjadi adalah, ada different foreign exchange regime yang memungkinkan orang itu melakukan adjustment. “Sehingga saya enggak terlalu khawatir sebetulnya di kelompok menengah atas.”
Chatib mencontohkan, kelompok menengah atas kini sudah memiliki ruang penyesuaian. Sebagian perusahaan telah melakukan lindung nilai atau hedging. Sebagian rumah tangga juga sudah menempatkan dana rupiah ke dollar AS, terutama mereka yang memiliki anak sekolah di luar negeri. Namun, Chatib melihat tekanan lebih besar akan dirasakan kelompok masyarakat berpendapatan menengah ke bawah atau lower middle income group. “Karena efek dari harga tepung terigu yang naik, sehingga noodle nanti akan naik. Efek dari kedelai yang akan membuat tahu tempe, ini akan butuh waktu agak panjang.”
Jadi, yang perlu dijaga itu adalah bagaimana memberikan social protection kepada lower middle income group untuk address issue.
Risiko Fiskal Faktor Paling Besar dalam Pelemahan Rupiah
Satu hal lagi, Chatib Basri menilai pelemahan rupiah tidak terutama disebabkan oleh konflik global. Data ekonomi menunjukkan risiko fiskal menjadi faktor paling besar dalam menjelaskan pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dan tekanan di pasar saham. Indikator risiko fiskal Indonesia sudah mulai memburuk sebelum konflik global meningkat.
"Jadi, Granger Causality test-nya itu menunjukkan bahwa yang bisa menjelaskan pelemahan rupiah, faktor yang paling besar itu adalah resiko dari fiskal," kata Chatib Basri di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Related News
Target Percaya Diri Pemerintah, Ekonomi Tumbuh 5,8-6,5 Persen 2027
Indonesia Tetap Menarik Untuk Investasi Jangka Panjang, Ini Sikap CIMB
Tanpa Reshuffle Purbaya, Rupiah dan IHSG Tiba-tiba Kompak Meledak!
Begini Pergerakan Rupiah Sebelum dan Setelah Kenaikan BI-Rate
BI Rate Naik Lagi, Ini Kata Pengamat
BI Juga Lakukan ini Untuk Angkat Rupiah





