EmitenNews.com - Indeks saham di Asia pada perdagangan sore ini Rabu (2/3) mayoritas ditutup melemah.


Setali tiga uang, indeks saham di dalam negeri, IHSG ditutup turun -53.039 poin atau -0.77% ke level 6.868.


Menurut analis Phillip Sekuritas, Dustin Dana Pramitha, pelemahan indeks tertekan oleh aksi jual setelah perang di Ukraina dan sanksi ekonomi atas Rusia memicu lonjakan harga komoditas sehingga meredupkan prospek ekonomi global dan mendongkrak permintaan atas surat utang Pemerintah negara -negara maju.


"Sanksi global atas Rusia telah mendorong banyak korporasi mengumumkan pembekuan kegiatan operasional mereka di Rusia atau bahkan memutuskan untuk menghentikan kegiatan usaha mereka di Rusia," tambahnya.


Sebagai langkah terkini dalam menekan Rusia, Pemerintah AS mengikuti jejak Uni Eropa dan Kanada dengan melarang semua penerbangan dari Rusia untuk melintasi wilayah udara AS.


Kebijakan ini diumumkan oleh Presiden Joe Biden dalam pidato kenegaraan tahunan semalam di mana Presiden Biden mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin akan membayar dengan harga yang mahal karena telah menginvasi Ukrania.


Dari sisi makroekonomi, investor mencerna rilis data pertumbuhan ekonomi (PDB) Australia yang memperlihatkan bahwa ekonomi Australia ekspansi 3.4% Q/Q (+4.2% Y/Y) di 4Q21, lebih tinggi dari ekspektasi pertumbuhan 3.0% dan berbalik arah dari kontraksi 1.9% Q/Q (+3.9% Y/Y) di 3Q21.


Ini adalah laju pertumbuhan tercepat sejak 3Q20, terutama didorong oleh pemulihan Belanja Rumah Tangga seiring dengan pembukaan kembali ekonomi Australia dari kebijakan lockdown. Belanja Rumah Tangga tumbuh 6.3% Q/Q, tertinggi dalam 5 kuartal terakhir setelah menyusut 4.8% Q/Q di 3Q21.


Sementara itu, belanja pemerintah hanya bertambah 0.1% Q/Q, turun tajam dari kenaikan 3.8% Q/Q di 3Q21. Investasi swasta untuk pertama kali dalam 6 kuartal mengalami kontraksi, -1.4% Q/Q di tengah kelangkaan tenaga kerja dan bahan konstruksi.


Perdagangan internasional memberi kontribusi negatif pada pertumbuhan dengan ekspor anjlok 1.5% Q/Q sementara impor hanya turun 0.9% Q/Q.