Tetap Waspada Pada Inflasi, Kebijakan Suku Bunga di Negara Berkembang Mulai Berbeda
EmitenNews.com -Arah kebijakan suku bunga di negara berkembang dan negara maju mulai berbeda, dengan mayoritas bank sentral negara berkembang mempertahankan kebijakan moneternya suku bunga ditahan dan beberapa diantaranya mulai menurunkan suku bunga, sementara bank sentral negara maju terus menaikkan suku bunga di tengah inflasi inti yang tinggi dan terus-menerus, menurut Fitch Ratings dalam Economics Dashboard terbarunya.
Divergensi juga terjadi di negara-negara emerging market. Kebijakan suku bunga tampaknya masih akan dipertahankan di Korea, Indonesia, Meksiko, Afrika Selatan, India dan Polandia untuk saat ini, sementara Brazil dan Chile baru-baru ini memangkas suku bunga, mengingat prospek inflasi yang membaik dan aktivitas yang melambat, karena pengetatan moneter di masa lalu berdampak pada perekonomian.
Tiongkok baru-baru ini kembali menurunkan suku bunganya karena pemulihan ekonomi telah kehilangan momentum. Sebaliknya, kenaikan suku bunga baru-baru ini diterapkan di Turki dan Rusia.
Langkah-langkah ini kemungkinan akan memicu ekspektasi siklus pelonggaran yang lebih luas di negara-negara berkembang dalam beberapa bulan mendatang. Bukti divergensi dapat dilihat pada indeks Fitch mengenai sebaran geografis arah kebijakan moneter. Indeks ini mencakup 39 bank sentral dan melihat proporsi bank sentral yang menaikkan suku bunga versus bank sentral yang menurunkan suku bunga dalam enam bulan terakhir.
Meskipun indeks negara-negara berkembang masih berada di atas 50 (menunjukkan bahwa sebagian besar bank sentral telah melakukan pengetatan dibandingkan pelonggaran dalam enam bulan terakhir), indeks tersebut telah menurun secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir, berbeda dengan indeks negara-negara maju, yang tetap berada di atas 50. tinggi.
Meskipun demikian, bank sentral negara berkembang tetap mewaspadai inflasi mengingat risiko dari kenaikan harga pangan, El Niño dan, di beberapa negara, masih tingginya tingkat inflasi inti.
Related News
Penerimaan Perpajakan Hingga Triwulan IV 2025 Cuma Capai 89,0 Persen
Harga Emas Antam Loncat Lagi Rp52.000 Per Gram
Kebutuhan Semikonduktor Indonesia Terus Meningkat, ADB Siap Bantu
Pertumbuhan Ekonomi 2026 Diprediksi Naik Dari 5,2 Jadi 5,4 Persen
Sepanjang 2025 PalmCo Serap 3,25 Juta Ton TBS Petani Sawit, Meningkat
Menkeu Purbaya: Faktor Global Bukan Penentu Utama Kinerja Ekonomi RI





