EmitenNews.com - PT Techno9 Indonesia Tbk. (NINE) tepat hari ini akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tertanggal Selasa (21/4/2026) pukul 14.00 WIB di Harris Suites Puri Mansion, Jakarta Barat.

Rights Issue membahas agenda utama meminta persetujuan aksi Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue.

"Integrasi aset-aset Mongolia ke dalam Techno9 Indonesia ini dilakukan melalui proses PMHMETD," ujar Nuzwan dalam keterangan resmi (9/1/2026).

Rights issue ini menjadi bagian dari strategi ekspansi perseroan untuk mengintegrasikan aset tambang di Mongolia ke dalam portofolio bisnis.

Corporate Secretary NINE, Zainal Abidin menjelaskan mata agenda RUPSLB per Selasa (21/4) yakni:

1. Memberikan persetujuan perubahan susunan Direksi Perseroan;

2. Memberikan persetujuan perubahan susunan Dewan Komisaris;

3. Persetujuan atas rencana Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD);

4. Persetujuan perubahan Anggaran Dasar Perseroan termasuk tetapi tidak terbatas pada perubahan Pasal 4 ayat 2 Anggaran Dasar Perseroan, sehubungan dengan peningkatan Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh Perseroan sesuai dengan hasil PMHMETD; dan

5. Persetujuan pemberian wewenang dan kuasa dengan hak subtitusi kepada Direksi Perseroan untuk melakukan segala tindakan sehubungan dengan keputusan pelaksanaan PMHMETD.

Sebelumnya, manajemen menyebut integrasi tersebut akan dilakukan melalui skema PMHMETD dengan target pelaksanaan paling lambat kuartal II-2026.

“Realisasi rencana investasi ini bergantung pada hasil uji tuntas (due diligence) yang memuaskan serta persetujuan atau pencatatan investasi luar negeri (Overseas Direct Investment/ODI) yang diperlukan dari otoritas Tiongkok. Jumlah investasi aktual akan disesuaikan dengan besaran persetujuan atau pencatatan yang diperoleh,” tambah Nuzwan.

Aset yang akan diakuisisi berasal dari Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR), entitas di bawah Poh Group yang dikendalikan Poh Kay Ping, dengan nilai indikatif mencapai USD150 juta atau sekitar Rp2,5 triliun. Aset tersebut mencakup dua konsesi tambang batu bara dan semi-soft coking coal di Mongolia.

Dalam skema kerja sama, proyek tambang juga melibatkan mitra Engineering, Procurement and Construction plus Finance (EPC+F) yang berencana menggelontorkan investasi lebih dari USD100 juta untuk mendukung operasional dengan kapasitas produksi lebih dari 20 juta ton per tahun. (*)