12 Antrean Menuju IPO 2026, Bos BEI Beber Belum Ada BUMN hingga Konglo
:
0
Potret Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna. Foto: EmitenNews/Aji.
EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan antrean calon emiten yang akan melantai di bursa masih didominasi perusahaan beraset jumbo, namun belum mengungkap adanya perusahaan dari entitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun perusahaan Lighthouse dan konglomerasi.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan hingga akhir Maret 2026 terdapat 12 perusahaan dalam pipeline atau antrean pencatatan saham.
Nyoman menjelaskan, secara umum proses IPO masih berjalan dinamis karena BEI terus melakukan pendalaman terhadap dokumen serta respons dari masing-masing calon emiten.
“Terkait dengan pipeline, saat ini kita dalam proses untuk melakukan evaluasi. Di periode tanggal 9 itu akan ada yang tercatat satu (IPO WSBP), yang sisanya tentu kita berproses,” ujarnya saat ditemui di Gedung BEI, Kamis (2/4/2026).
Ia menambahkan, fluktuasi jumlah pipeline juga dipengaruhi kondisi pasar serta kelengkapan informasi yang disampaikan perusahaan.
“Karena beberapa hal perlu kita dalami tentunya kita sampaikan respon inquiry termasuk permintaan dokumen tambahan,” terang Nyoman.
Meski pipeline terbilang gemuk dan tersebar di berbagai sektor, Nyoman mengakui belum terdapat perusahaan kategori lighthouse maupun entitas dari kalangan BUMN dalam antrean IPO saat ini.
“Lighthouse saat ini belum, tapi rata-ratanya itu (papan) pengembangan dan utama,” jelas Nyoman.
Salah satu calon emiten yang telah lebih dahulu melangkah adalah PT BSA Logistics Indonesia Tbk. (BWSA) yang dijadwalkan memulai pencatatan saham di papan pengembangan pada 9 April 2026 nanti.
“BUMN belum ada itu yang kita tunggu teman-teman sekarang,” tambahnya.
Related News
BEI Kantongi 9 Perusahaan di Pipeline Obligasi, Total 14 Emisi
Usaha Kecil Dominasi Penggunaan QRIS di Babel, ada 125 Ribu Merchant
Tujuh Perusahaan Antre IPO, Sektor Healthcare Mendominasi
BEI Luncurkan IDX Green Equity Designation, Apa Itu?
Dari Rp50 ke Rp1, BEI Lakukan Uji Coba Penurunan Batas Harga Saham
Jelang Resmi Didepak BEI pada 10 November, 18 Emiten Ini Disanksi SP1





