EmitenNews.com - Singaraja Putra (SINI) paruh I 2026 mengemas laba bersih Rp679,7 miliar. Bertolak dari rugi dengan melonjak 2.674 persen dari episode sama tahun lalu yang boncos Rp26,4 miliar. Menyusul hasil positif tersebut, laba per saham dasar emiten besutan Happy Hapsoro itu meroket menjadi Rp565,24 dari sebelumnya minus Rp54,89.

Pendapatan Rp537,85 miliar, melambung 147,4 persen dari periode sama tahun sebelumnya Rp217,4 miliar. Beban pokok pendapatan Rp394,44 miliar, mengalami pembengkakan dari edisi sama tahun lalu Rp169,62 miliar. Laba kotor Rp143,4 miliar, melonjak dari posisi sama tahun lalu Rp47,78 miliar.

Beban usaha Rp69,6 miliar, bengkak dari Rp44,04 miliar. Laba penjualan aset tetap Rp15,42 juta dari nihil. Beban keuangan Rp30,34 miliar, bertambah dari Rp28,42 miliar. Penghasilan keuangan Rp1,95 miliar, menanjak dari Rp1,43 miliar. Rugi selisih kurs Rp801,79 juta, drop dari periode sebelumnya surplus Rp259,93 juta.

Beban pajak Rp554,95 juta dari nihil. Laba dari akuisisi dengan diskon Rp662,72 miliar dari nihil. Rugi dari entitas asosiasi Rp1,73 miliar dari nihil. Penyisihan piutang Rp2,15 miliar dari nihil. Cadangan penurunan nilai persediaan Rp23,71 miliar. Pajak penghasilan Rp9,76 miliar, bengkak dari Rp22,55 miliar.

Total ekuitas terkumpul Rp3,58 triliun, melonjak 626,47 persen dari akhir tahun lalu minus Rp687,41 miliar. Jumlah liabilitas terakumulasi sebesar Rp2,96 triliun, mengalami pembengkakan dari akhir tahun 2025 senilai Rp2,25 triliun. Total aset Rp6,55 triliun, meroket 319,87 persen dari akhir 2025 senilai Rp1,56 triliun.

Injeksi Modal Entitas Usaha

Sebelumnya, SINI menginjeksi entitas usaha Rp1,18 triliun. Dana segar tersebut membanjiri kas Pasir Bara Prima (PBP), dan Persada Kapuas Prima (PKP). PKP mendapat guyuran dana Rp633,25 miliar dengan bunga 10,95 persen per tahun.

Selanjutnya, PBP mendapat suntikan modal sebesar Rp547,03 miliar dengan tingkat bunga 10,95 persen per tahun. Transaksi pemberian pinjaman kepada dua entitas usaha tersebut telah dipatenkan pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Transaksi itu, merupakan tindak lanjut dari rencana penggunaan dana dari hasil pelaksanaan right issue jumbo emiten asuhan Happy Hapsoro tersebut. Suntikan modal itu, tidak masuk material karena baru mencapai 21,76 persen dari total aset SINI. So, tidak perlu mendapat persetuhjuan pemegang saham via RUPS.

Transaksi dilakukan SINI dengan PKP dan PBP yang secara tidak langsung menguasai 60 persen saham kedua entitas usaha via Dwi Daya Swakarya (DDS). So, PKP dan PBP merupakan perusahaan terkendali emiten besutan suami ketua DPR Puan Maharani yaitu Happy Hapsoro.