EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih bergerak menguat pada transisi Agustus dan awal pekan September 2026. Namun, investor perlu mewaspadai volatilitas akibat rebalancing MSCI dan FTSE Russell serta sentimen hawkish The Fed.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Hari Rachmansyah mengatakan, IHSG menguat 4,52% sepanjang Agustus 2026 dan ditutup di level 6.518. Penguatan dua bulan berturut-turut ini mengkonfirmasi terbentuknya buying bias.

"Secara teknikal, IHSG telah menembus resistance 6.454 yang kini berpotensi menjadi support. Jika mampu bertahan di atas 6.537, peluang penguatan menuju 6.822 semakin terbuka. Sebaliknya, jika gagal di 6.454, IHSG bisa menguji 6.243," ujar Hari dalam riset, Senin, 1 September 2026.

Sentimen Domestik Dorong IHSG

Dari sisi domestik, kepastian proses suksesi Gubernur Bank Indonesia mengurangi salah satu sumber ketidakpastian pasar. Destry Damayanti telah mendapat persetujuan Komisi XI DPR. BI juga mempertahankan BI-Rate di 5,75% untuk ketiga kalinya guna menjaga stabilitas Rupiah.

Kinerja emiten pada laporan keuangan 1H26 juga masih menjadi penopang, terutama di sektor perkebunan, minyak dan gas, serta ritel dan konsumsi.

Risiko Global dan Rebalancing Indeks

Dari global, pidato Kevin Warsh di Jackson Hole menunjukkan nada hawkish. Inflasi PCE AS masih di 3,7% YoY, jauh di atas target 2%. Kondisi ini berpotensi menopang dolar AS dan menekan aliran dana ke pasar negara berkembang.

Pasar juga akan mencermati implementasi rebalancing MSCI yang efektif 1 September dan semi-annual review FTSE Russell pada 21 September. Meskipun ekspektasi perubahan telah priced-in, actual implementation flow berpotensi meningkatkan volatilitas.

Rekomendasi Saham Sektor Komoditas