EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street akhir pekan lalu ditutup melemah. Itu setelah gubernur The Fed, Kebin Wars mengungkap kekhawatirannya terhadap tren inflasi saat ini. Dalam pidatonya dalam acara simposium tahunan di Jackson Hole, Wyoming, Kevin Warsh mengatakan meski PCE dan CPI musim panas ini lebih baik dari ekspektasi, namun tren dari keduanya tidak menunjukkan tren yang membaik.

The Fed harus percaya diri bahwa inflasi inti bergerak menuju target dengan jelas dan cepat , jika tidak maka menjadi tugas The Fed untuk mencapai target tersebut. Berdasar data CME FedWatch Tool probabilitas The Fed akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan September 2026 mendatang tercatat naik menjadi 57,5 persen dari dua hari lalu masih 35,4 persen.

Perosotan indeks bursa Wall Street seiring penguatan probabilitas kenaikan suku bunga acuan, dan terkoreksi harga mayoritas komoditas diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Sementara itu, gubernur BI sudah definitif, relatif sejalan kinerja keuangan emiten bank pada 7 bulan pertama 2026 berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG).

So, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.460-6.400 dan resist 6.575-6.635. Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham Indika (INDY), Merdeka (MDKA), Merdeka Resources (EMAS), BFI Finance (BFIN), Pakuwon (PWON), dan Map Aktif (MAPA). (*)