Beijing Adalah Alasan Utama Mengapa Ekonomi Iran Belum Kolaps
:
0
Beijing Adalah Alasan Utama Mengapa Ekonomi Iran Belum Kolaps. Dok. ceknricek
EmitenNews.com - Ketika para pengamat militer mengukur ketahanan suatu negara yang sedang digempur habis-habisan, perhatian utama biasanya tertuju pada kalkulasi jumlah cadangan rudal, kesiapan radar pertahanan udara, hingga moral pasukan di medan tempur.
Namun, saat kecamuk perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus merembet hingga memasuki bulan kelima di pertengahan tahun 2026 ini, titik tumpu gravitasi bagi Teheran sama sekali tidak terletak di celah-celah bunker rudal bawah tanah mereka maupun di sepanjang perairan panas Selat Hormuz.
Titik tumpu justru bertengger manis di neraca keuangan kilang-kilang minyak independen di Shandong, pembukuan rahasia lembaga kliring keuangan non-SWIFT, serta derasnya alir pasokan mesin-mesin industri buatan Tiongkok yang tak henti memadati pabrik-pabrik di Iran.
Terlepas dari gelombang serangan udara musuh yang tiada henti menghantam infrastruktur vital, gejolak sosial domestik yang kian akut, hingga cengkeraman sanksi ekonomi Barat yang terus mencekik selama lebih dari satu dekade, benteng negara Iran terbukti belum runtuh.
Diversifikasi ekonomi domestik dan gelontoran subsidi pemerintah memang memberi bantalan darurat sementara. Namun, arsitektur pondasi utama yang menjaga Teheran tetap mengapung sejatinya dirancang dan dibangun langsung dari Beijing.
Dalam diskursus akademis, fenomena ketahanan ini mengonfirmasi teori yang pernah dicetuskan oleh David Baldwin dalam karya klasiknya, “Economic Statecraft”, mengenai isolasi konstrastruktural hegemoni (structural counter-hegemonic insulation), sebuah proses ketika negara sasaran sanksi berhasil meloloskan diri dari tekanan diplomasi koersif dengan cara menambatkan diri pada kekuatan global alternatif.
Mantan arsitek sanksi AS, Richard Nephew, dalam bukunya “The Art of Sanctions: A Look From the Field”, turut menegaskan bahwa instrumen sanksi akan mandul jika pihak sasaran menemukan negara ketiga yang cukup besar dan bersikap non-kooperatif terhadap AS, untuk menyerap kejutan pasokan serta permintaan pasar.
Hari ini, Tiongkok memainkan peran sebagai pihak ketiga tersebut secara presisi. Dengan bertindak sebagai pembeli terakhir (buyer of last resort) sekaligus pemasok utama komponen industri, Tiongkok berhasil membangun ekosistem ekonomi berdaulat di sekeliling Iran yang beroperasi sepenuhnya di luar jangkauan yurisdiksi dan sanksi Barat.
Untuk memahami dinamika ini secara utuh, kita harus menanggalkan asumsi dangkal bahwa embargo Barat secara otomatis akan memicu kelumpuhan total (economic asphyxiation) suatu negara.
Di atas kertas teori ekonomi klasik, negara yang dihantam bombardment militer asing secara simultan, menanggung lonjakan inflasi hingga 90 persen, dan mencatatkan angka kemiskinan sebesar 45 persen. Dengan kata lain, Iran seharusnya sudah mengalami kelumpuhan fiskal total.
Related News
Sosok Paripurna Gubernur Bank Sentral, Cermin Penjaga Stabilitas Dunia
Deadline MSCI November, Sinyal Emas Reformasi atau Ancaman Downgrade?
Endowment Fund: Solusi Finansial Jangka Panjang Kampus Top Dunia
Menakar Target Pertumbuhan Ekonomi 2027, antara Aspirasi dan Realitas
Price Impact Ratio, Cara BEI Deteksi Saham Rentan Manipulasi?
Mitigasi Risiko Merah Putih Bond





