EmitenNews.com - Bank Indonesia menyoroti berbagai tantangan yang bisa berdampak pada negara- negara berkembang seperti Indonesia. Salah satu yang menjadi sorotan bank sentral adalah era suku bunga tinggi dalam waktu yang lama alias Higher for longer.

Dalam keterangannya yang dikutip Sabtu (1/8/2026), Pejabat Gubernur Sementara BI, Destry Damayanti mengatakan bahwa The Fed melalui rapat Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan kembali mempertahankan suku bunga acuannya Fed Funds Rate pada level saat ini. 

Artinya, sampai akhir Juli 2026, bank sentral AS tidak menaikkan maupun menurunkannya suku bunga acuannya.

Meski begitu dari pernyataan Ketua The Fed terlihat bahwa mereka masih bersikap hawkish. Mereka sangat memperhatikan kondisi ekonomi AS yang dinilai masih menunjukkan tekanan inflasi.

Bank sentral Amerika Serikat (The Fed), kembali mempertahankan suku bunga  acuannya di kisaran 3,50-3,75 persen dalam rapat FOMC, Rabu (29/7/2026).

Satu hal keputusan tersebut tidak bulat. Keputusan diambil melalui voting 9 banding 3, menandai lima pertemuan berturut-turut The Fed mempertahankan suku bunga di level yang sama.

Sejauh ini, menurut Destry Damayanti, dunia masih menghadapi situasi higher for longer, yaitu kondisi ketika suku bunga tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama. Yang tetap tinggi, kata dia, bukan hanya suku bunga, tetapi juga yield obligasi pemerintah AS dan tingkat inflasi.

"Situasi tersebut tentu berdampak pada negara-negara emerging market, termasuk Indonesia," kata Destry Damayanti saat membuka Editor Briefing secara Hybrid di Parapat, Sumatera Utara, Jumat (31/7/2026).

Di luar soal suku bunga, BI juga menyoroti konflik geopolitik global yang hingga saat ini belum selesai. Menurut Destry, kondisi ini mengganggu arus perdagangan, menjaga harga minyak tetap tinggi, dan mendorong inflasi global.

“Semua kondisi tersebut pada akhirnya memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia,” katanya.