Diversifikasi Ekstrem IFSH: Dari Tambang Nikel ke Kebun Kelapa
Aktivitas pertambangan nikel PT Ifishdeco Tbk (IFSH)
EmitenNews.com - PT Ifishdeco Tbk (IFSH) bersiap membuka babak baru bisnisnya. Emiten tambang nikel ini mengungkapkan akan mulai mengembangkan usaha perkebunan kelapa pada tahun ini, sebagai bagian dari strategi diversifikasi di luar sektor pertambangan.
Manajemen IFSH dalam keterbukaan informasi menyampaikan bahwa rencana pengembangan bidang usaha baru tersebut telah memperoleh persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang digelar pada 26 Juni 2025.
Langkah diversifikasi ini didorong oleh optimalisasi aset yang dimiliki Perseroan, termasuk Izin Usaha Pertambangan seluas sekitar 900 hektare serta lahan Hak Guna Usaha sekitar 1.500 hektare yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan di sektor perkebunan.
“Ini dimanfaatkan untuk mendukung program pemerintah di bidang ketahanan pangan melalui pengembangan sektor perkebunan,” terang Manajemen IFSH dalam laporan paparan publik insidentil, dikutip Minggu, 25 Januari 2026.
Manajemen menilai prospek pasar komoditas kelapa masih cukup menjanjikan, sehingga diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan baru yang menopang kinerja Perseroan dalam jangka menengah hingga panjang.
“Dengan strategi yang dijalankan, Perseroan menargetkan adanya tambahan pendapatan dari perkebunan kelapa sekitar 4 tahun ke depan,” katanya.
Pada tahun 2026, IFSH juga tetap memfokuskan aktivitas utama pada optimalisasi pemanfaatan IUP melalui penerapan Good Mining Practice, pelaksanaan penanaman kelapa sesuai perizinan dan Nomor Induk Berusaha yang telah diperoleh pada 2025, serta penjajakan peluang akuisisi tambang yang sejalan dengan rencana kerja Perseroan.
Sebagai informasi tambahan, hingga saat ini Perseroan telah merealisasikan penjualan nikel sekitar 1,3 juta metrik ton atau setara 59 persen dari target RKAB sebesar 2,2 juta metrik ton untuk periode tiga tahun 2024–2026.
Sejalan dengan perubahan regulasi yang mewajibkan penyusunan RKAB secara tahunan, Perseroan juga telah melakukan penyesuaian perencanaan produksi dengan mempertimbangkan faktor cuaca serta dinamika harga nikel sepanjang 2025, agar strategi produksi dan penjualan tetap selaras dengan kondisi pasar.
Related News
PIPA Realisasikan 95 Persen Dana IPO, Sisa Rp3M Parkir di Bank OCBC
Kursi Kosong, Mutuagung (MUTU) Sampaikan Kabar Berpulangnya Komisaris
Kerja Sama Pembiayaan Rp300M BNI-Siemens Perkuat Ekosistem Kelistrikan
Bos VKTR Lepas Separuh Saham, Kantongi Hampir Rp13 Miliar
AMAG Anggarkan Rp90,15 Miliar untuk Buyback Saham
Menang Seleksi ESDM, PGEO Keruk Potensi 77 MW Geothermal Cubadak Panti





