Fed Bawa Yield Obligasi AS Tembus 5,2 Persen, Rupiah Terancam
:
0
Sikap Federal Reserve (The Fed) yang menahan suku bunga acuan mendorong imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat bertenor 30 tahun melonjak hingga melampaui 5,2 persen. (Foto: Dok)
EmitenNews.com - Sikap Federal Reserve (The Fed) yang menahan suku bunga acuan mendorong imbal hasil obligasi Treasury Amerika Serikat bertenor 30 tahun melonjak hingga melampaui 5,2 persen. Lonjakan yield surat utang ke tingkat tertinggi sejak 2007 ini menjadi ancaman serius bagi stabilitas mata uang rupiah.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS tersebut berpotensi memicu pelemahan nilai tukar rupiah dan risiko aliran modal keluar (*capital outflow*) dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia. Pelaku pasar keuangan domestik kini mewaspadai dampak pergeseran sentimen global ini terhadap pasar finansial nasional.
Data dari Trading Economics mencatat bahwa pergerakan pasar uang AS dipimpin oleh kenaikan imbal hasil tenor 30 tahun usai konferensi pers Ketua The Fed Warsh pada pertemuan bulan Juli.
Keputusan menahan suku bunga acuan tersebut sejatinya sesuai dengan konsensus pasar, meski kontrak berjangka menunjukkan sepertiga pelaku pasar sempat mengantisipasi opsi kenaikan suku bunga. Keengganan Ketua The Fed untuk memberi sinyal kenaikan suku bunga sebagai respons atas inflasi justru memicu imbal hasil jangka panjang melonjak tinggi, sementara imbal hasil jangka pendek turun.
Kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang ini dipicu oleh indikator inflasi mendasar di AS yang meningkat pada kuartal kedua. Kenaikan tarif dan lonjakan harga energi menjadi pemicu utama membengkaknya biaya di berbagai industri.
Di sisi lain, pengeluaran pribadi riil masyarakat AS yang disesuaikan dengan inflasi tumbuh stabil di angka 0,4 persen secara bulanan pada Juni 2026, sama seperti laju pada bulan Mei.
Pengeluaran barang di AS meningkat menjadi 0,7 persen, disokong oleh kenaikan konsumsi kendaraan bermotor dan suku cadang sebesar 2,2 persen, bensin dan barang energi 0,7 persen, serta pakaian dan alas kaki 1,3 persen. Sementara itu, sektor jasa bertahan stabil pada tingkat pertumbuhan 0,3 persen.
Kombinasi antara solidnya konsumsi masyarakat AS dan lonjakan imbal hasil Treasury ini semakin memperkuat posisi dolar AS secara global. Kondisi tersebut memaksa Bank Indonesia untuk memantau ketat pergerakan imbal hasil obligasi guna menahan tekanan terhadap rupiah.(*)
Related News
Tunggu Insentif dan Kondisi Makro Membaik, Industri Pilih Tahan Stok
Harga Minyak Dunia Naik 20%, Beban Subsidi RI Membengkak
Efek MBG dan 3 Juta Rumah, IKI Juli Naik Jadi 53,10
Bittime Ingatkan Investor Kembali Minati USDT dan Aset Kripto Utama
Rupiah Pagi ini Menguat Usai Fed Tahan Suku Bunga
Emas Antam Ikut Naik Rp15 Ribu Usai Fed Tahan Suku Bunga





