FTSE Sikat Saham Konglo, Emiten Grup Lippo Berakhir Tragis
:
0
Salah satu rumah sakit Siloam berdiri menghadap pantai. FOTO - Dok SILO
EmitenNews.com - FTSE Russell tanpa ragu mencoret emiten dengan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi oleh segelintir kelompok tertentu alias High Shareholding Concentration (HSC). Alhasil, Ancara Logistics (ALII), dan Siloam International Hospitals (SILO) dibuang secara tidak hormat dari panggung FTSE. ALII dieliminasi dari FTSE Micro Cap, dan SILO tanpa ampun didepak langsung dari FTSE Small Cap.
ALII terlempar dari Micro Cap tidak sendiri. Emiten Bakrie Group itu, dilengserkan secara kolektif bersama 27 emiten lain (lihat daftar). Namun, nasib tragis harus dilakoni SILO. Emiten medis besutan Lippo Group itu, satu-satunya konstituen yang langsung ditenggelamkan dari papan FTSE Small Cap.
Sedangkan 9 emiten lain mengalami rotasi alias turun kasta ke papan Micro Cap (lihat daftar). Sejatinya, SILO dan ALII keluar dari pintu belakang FTSE tidak mengejutkan alias sesuai dugaan. Maklum, kedua emiten itu telah menyandang HSC. Saham SILO 96,70 persen dikapling segelintir elit, dan 97,62 persen saham ALII juga dikuasai investor tertentu.
Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan status HSC SILO dan ALII pada 14 Juli 2026. Itu berdasar metodologi penentuan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atas struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat, dan tanpa warkat per 30 Juni 2026.
Kendati demikian, operator pasar modal indonesia mengungkapkan penyematan status HSC tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang- undangan, dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal.
Kinerja Medio 2026
SILO adalah jaringan rumah sakit milik konglomerat Lippo Group (Keluarga Riady), dan Marubeni/CVC. Sepanjang paruh I 2026, SILO sukses memetik laba bersih Rp580,68 miliar. Raihan tersebut melonjak 27,11 persen dibanding periode sama tahun sebesar Rp456,8 miliar.
Pendapatan usaha SILO tumbuh menjadi Rp6,12 triliun naik 11,8 persen dibanding episode sama tahun 2025. Kinerja apik itu, ditopang fokus pada penanganan kasus-kasus medis tingkat tinggi (high-complexity care) seperti penanganan kanker (onkologi), kardiologi, dan bedah saraf, serta penguatan segmen pasien pembayaran pribadi (out-of-pocket) dan asuransi swasta.
Sementara itu, ALII mengemas laba bersih Rp265,31 miliar. Surplus 27,51 persen dari posisi sama tahun lalu Rp208,06 miliar. Itu ditopang pendapatan Rp579,71 miliar, mengalami peningkatan dari edisi sama tahun sebelumnya Rp544,88 miliar. Beban pokok pendapatan Rp298,69 miliar, bengkak dari Rp275,17 miliar.
Laba kotor Rp281,01 miliar, mengalami lonjakan dari Rp269,7 miliar. Beban usaha terkumpul Rp47,78 miliar, mengalami pembengkakan dari fase sama tahun sebelumnya Rp45,17 miliar. Laba usaha Rp233,23 miliar, mengalami peningkatan dari episode sama 2025 ssenilai Rp224,54 miliar.
Related News
Maksimalkan Ekosistem Mobkas, ASLC Penetrasi Lelang Non-kendaraan
Tunda Bayar, Pefindo Turunkan Peringkat Obligasi dan Sukuk WIKA
PICO Jajaki Kerja Sama dengan Perusahaan Asal Korea, Untuk Apa?
Sponsor Persib (BJBR) Turun Kelas ke Micro Cap FTSE, Intip Kinerjanya
Emiten Industri Kemasan Ini Dapat Jaminan Pasokan Raksasa Baja Korea
Alami Tekanan Keuangan, Adhi Karya (ADHI) Sulit Bayar Bunga Obligasi





