EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia bergerak mendekati level USD96 per barel pada perdagangan Selasa (3/11), sementara minyak mentah Brent diperdagangkan mendekati USD104 per barel. Pergerakan ini terjadi setelah kedua acuan harga minyak tersebut masing-masing anjlok lebih dari 6 persen dan 7 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan laporan Trading Economics, penurunan tajam harga minyak tersebut diredam oleh munculnya tanda-tanda kemajuan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi lebih lanjut.

Terkait perkembangan diplomatik tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pemerintahannya telah menerima wewenang yang lebih besar dari pemimpin tertinggi negara untuk mengejar negosiasi perdamaian. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut mengindikasikan bahwa kemajuan nyata telah dicapai dalam pembicaraan kedua negara.

Para pejabat Iran juga mengisyaratkan bahwa kesepakatan masih berpeluang untuk dicapai setelah berlangsungnya tiga hari diskusi yang dimediasi oleh Qatar. Rangkaian perundingan ini bertepatan dengan dimulainya pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat, di mana pemerintahan Trump dan Partai Republik menghadapi tekanan politik akibat kenaikan biaya energi imbas konflik dengan Iran.

Sebelumnya, patokan harga minyak Amerika Serikat sempat melonjak ke level tertinggi dalam beberapa minggu di tengah kekhawatiran pasar bahwa Washington akan melanjutkan aksi serangan militer terhadap Iran selepas pemilu.

Bagi pasar keuangan di Indonesia, pergerakan harga minyak global yang tertahan ini memberikan sentimen penting bagi pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, khususnya terkait subsidi energi serta stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah dinamika geopolitik global.(*)