EmitenNews.com - Pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah agresif. Indeks komposit terkoreksi 158 poin atau tembus melebihi 2,19 persen ke level 7.026.

Sepanjang tahun, IHSG bergerak terkoreksi 1.620,16 poin atau setara 18,74 persen ytd.

Berada di tengah tekanan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui volatilitas pasar meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Namun, kondisi ini disebut bukan hanya terjadi di dalam negeri, melainkan juga dialami oleh bursa global akibat faktor eksternal dan geopolitik.

“Ini mencerminkan dinamika eksternal dibanding respon atas kondisi fundamental domestik semata,” ujar Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pasar Modal, Derivatif, dan Bursa Karbon OJK dalam konferensi pers.

Meski demikian, OJK menilai ketahanan pasar domestik masih terjaga. “Sejauh ini resiliensi atau daya tahan dari pasar domestik kita masih dapat dan tetap terjaga,” ujar Hasan.

Hal ini tecermin dari aktivitas transaksi yang tetap tinggi. Sepanjang Maret 2026, rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp20,66 triliun, dengan likuiditas pasar yang dinilai stabil.

Selain itu, industri reksa dana juga masih mencatat pertumbuhan dengan nilai aktiva bersih (NAB) mencapai Rp695,71 triliun atau naik 3,02 persen secara year to date.

Dari sisi pembiayaan, pasar modal tetap menjalankan fungsinya dengan total penghimpunan dana korporasi mencapai Rp51,96 triliun hingga akhir Maret 2026.

Untuk menjaga kepercayaan investor, OJK bersama Self Regulatory Organization (SRO) mempercepat reformasi pasar melalui empat inisiatif proposal utama untuk kebutuhan transparansi Global Index Provider yakni, peningkatan transparansi kepemilikan saham, pengelolaan risiko konsentrasi kepemilikan, peningkatan kualitas data investor, serta penguatan kebijakan free float.

Seluruh inisiatif tersebut diklaim telah rampung per Maret 2026 dan akan terus dikembangkan guna memperkuat integritas serta daya saing pasar modal Indonesia di tingkat global.