EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Indeks komposit ditutup merosot 21,72 poin atau 0,3% ke level 6.441,16, setelah tekanan jual menyeret sejumlah saham berkapitalisasi jumbo, terutama sektor pertambangan dan perbankan.

IHSG sebenarnya sempat dibuka menguat ke level 6.512,57. Namun, tekanan aksi jual membuat indeks berbalik arah hingga menyentuh level terendah intraday 6.419,49 sebelum berakhir di 6.441,16.

Sebanyak 404 saham ditutup melemah, sementara hanya 204 saham menguat dan 144 saham lainnya stagnan. Aktivitas perdagangan tercatat mencapai 31,19 miliar saham dengan frekuensi 1,91 juta kali dan nilai transaksi Rp19,05 triliun.

Tekanan paling terasa dari jajaran big banks. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 2,41% menjadi Rp3.650, menjadi penurunan terdalam di antara bank jumbo.

Berikutnya, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) merosot 2,07% ke Rp4.260, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 0,79% ke Rp6.300, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkoreksi 0,6% menjadi Rp3.310 per saham.

Di jajaran saham LQ45, tekanan juga terlihat pada Surya Citra Media (SCMA) yang anjlok 6,12% ke Rp184. Elang Mahkota Teknologi (EMTK) menyusul dengan penurunan 5,62% ke Rp468, sedangkan Amman Mineral (AMMN) turun 4,49% ke Rp4.680 per saham.

Saham AMMN menjadi penggerak transaksi utama dengan nilai paling tinggi yaitu Rp1,2 triliun. Setelah itu, BBCA, BBRI, BMRI, dan Bumi Resources (BUMI) mencatat transaksi terbesar berikutnya dengan harga saham yang merosot.

Sementara itu, sejumlah saham LQ45 masih mampu bergerak berlawanan arah. Merdeka Battery Materials (MBMA) menguat 4,81% ke Rp545, disusul Vale Indonesia (INCO) yang naik 3,85% ke Rp4.860 dan Hartadinata Abadi (HRTA) menguat 3,29% ke Rp2.200 per saham.