EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kembali membukukan pelemahan. Itu dipicu lonjakan harga minyak mentah dikhawatirkan mendorong kenaikan inflasi, dan membuat imbal hasil obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun naik menjadi 4,95 persen merupakan level tertinggi sejak Oktober 2023.

Minyak mentah jenis WTI mencatat kenaikan signifikan 6,7 persen menjadi USD102,48 per barel alias meroket 52,9 persen sejak Amerika Serikat menyerang Iran, surplus 78,5 persen year to date (ytd). Minyak jenis Brent melejit 5,9 persen menjadi USD107,63 per barel.

Seiring kekhawatiran inflasi tinggi bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi, saham dengan beta tinggi  selama ini menjadi penopang penguatan indeks seperti Intel anjlok 5,6 persen, dan Micron Technology terkoreksi 4,7 persen. Peluncuran iPhone duo, saham Apple menguat 3,6 persen, dan berhasil menahan koreksi indeks lebih dalam.

Koreksi indeks bursa Wall Street, dan aksi jual investor asing diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Sementara itu, lompatan harga komoditas energi berpeluang menjadi sentimen positif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). Namun, IHSG diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.520-6.450, dan resistance 6.660-6.730.

Menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan sejumlah saham berikut sebagai rujukan koleksi. Yaitu, BTPN Syariah (BTPS), Charoen (CPIN), Astra International (ASII), Chandra Investasi (CDIA), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), dan Aneka Tambang alias Antam (ANTM). (*)