EmitenNews.com - Indeks saham di Asia pagi ini Senin (7/2) dibuka melemah setelah indeks saham utama di Wall Street akhir pekan lalu di tutup variatif (mixed) di tengah lonjakan imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS.


"Rilis laporan keuangan korporasi membantu meredakan sejumlah kekhawatiran mengenai langkah agresif yang akan diambil bank sentral AS (Federal Reserve)," ulas analis Phillip Sekuritas, Dustin Dana Pramitha, terkait pelemahan indeks saham Asia.


Indeks saham utama di Wall Street berhasil mencatatkan kinerja positif selama 2 minggu beruntun dengan S&P 500 naik 1.5% sepanjang minggu lalu. Sementara NASDAQ dan DJIA masing-masing menguat 2.4% dan 1.1%.


Imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury note) bertenor 10 tahun lompat 9.8 bps menjadi 1.92%, tertinggi sejak Desember 2019 setelah. Ekonomi AS mencatatkan penambahan tenaga kerja baru yang melampaui ekspektasi pasar di bulan Januari meskipun ada lonjakan jumlah kasus penulatran varian Omicron di awal tahun.


Data Non-farm Payrolls (NFP) memperlihatkan bahwa ekonomi AS berhasil menambah 467,000 pekerja baru di bulan Januari. Jauh melebihi estimasi penambahan 125,000 pekerja. Data NFP untuk bulan Desember mendapat revisi tajam ke atas menjadi bertambah 510,000 dari penambahan 199,000 sepertu tang di laporkan bulan lalu.


Meskipun tingkat pengangguran naik menjadi 4.0% dari 3.9% di bulan Desember, tingkat partisipasi angkatan kerja (labor force participation rate) secara tak terduga membaik menjadi 62.2%, tertinggi sejak maret 2020. "Ini sinyal bahwa semakin banyak orang yang kembali bergabung ke dalam angkatan kerja," kata Dustin.


Rata-rata upah per jam (average hourly earnings) juga mengalami kenaikan yang melebihi ekspektasi di bulan Januari. Average hourly earnings naik 0.7% M/M, leboh tinggi dari ekspektasi penambahan 0.5% M/M dan menyusul kenaikan 0.5% M/M di bulan Desember.


Secara tahunan (year-over-year), average hourly earnings tumbuh 5.7%, tertinggi sejak Mei 2020 dan mengalahkan estimasi penigkatan 5.2% serta menyusul kenaikan 4.7% di bulan Desember.


Meskipun ini adalah sesuatu yang baik bagi para pekerja, namun menurut Dustin kenaikan upah yang kencang ini juga akan membuat inflasi tinggi berlangsung lebih lama selain dari kenaikan harga BBM dan harga komoditas.


"Data NFP terkini ini diyakini tidak akan merubah sikap bank sentral AS (Fed) yang saat ini semakin hawkish (galak)," katanya.