EmitenNews.com - Berganti pimpinan Badan Gizi Nasional, tidak menyurutkan kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Malah, kasusnya cenderung makin masif. Menjabat Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sejak 22 Juli 2026, Sudaryono langsung diuji rentetan keracunan MBG, yang dialami para siswa di berbagai wilayah. Bos BGN itu mengidentifikasi, kasus keracunan makanan itu dipicu faktor rusaknya bahan makanan, terutama dari protein hewani. 

Kepada pers, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (17/9/2026), Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono mengungkap penyebab maraknya kasus keracunan dalam program MBG, mayoritas dipicu oleh makanan yang rusak. Terutama didominasi lauk yang berasal dari protein hewani. Beberapa di antaranya ayam, telur, ikan, hingga daging beserta berbagai olahannya.

"Adanya gangguan kesehatan karena MBG banyak sekali terjadi karena faktor rusaknya makanan itu lauk dan sayur. Lebih banyak lauk. Lebih banyak didominasi oleh protein hewani, apakah ayam, telur, ikan, daging dan lain sebagainya dengan olahan-olahannya," kata politikus Partai Gerindra tersebut.

Kondisi bahan baku menjadi salah satu faktor penting dalam menjamin keamanan makanan MBG. Proses memasak yang dilakukan dengan benar, tetap berisiko menimbulkan masalah apabila bahan baku yang digunakan sejak awal sudah tidak layak. Jadi, harus diawali oleh bahan baku makanan yang baik, tidak terkontaminasi bakteri.

Untuk memperketat pengawasan, BGN melakukan pencatatan terhadap penerimaan barang di dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). BGN tengah membangun semacam marketplace untuk pengadaan bahan baku, khususnya protein hewani. Semangatnya agar bahan-bahan baku protein hewani khususnya, betul-betul kualitasnya baik, dibeli dengan harga yang layar, benar. Tidak ada markup. 

Selain memperketat bahan baku, BGN melakukan evaluasi terhadap SPPG. Sudaryono mengatakan hampir separuh dari seluruh dapur MBG sedang diperiksa, sedangkan sekitar 14.000 SPPG dalam penilaian, disebut telah memenuhi standar.

Lalu, BGN telah menangguhkan operasional atau suspend dapur yang tidak memenuhi ketentuan. Jika setelah disuspend tidak dilakukan perbaikan, Sudaryono memastikan dapur tersebut akan ditutup secara permanen. "Kalau nggak memenuhi syarat, udah kami suspend enggak diperbaiki kami tutup permanen."

Harapan Setelah Sudaryono Menjabat Kepala BGN, Keracunan MBG Berhasil Ditekan

Dilantik sekitar dua bulan lalu, sebagai kepala BGN, Sudaryono menggantikan Nanik Sudaryati Deyang, besar harapan agar pelaksanaan MBG, tidak lagi mengalami masalah serius. Ternyata,  kesan yang ada, pelaksanaan program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu, cenderung lebih buruk, terutama karena tetap banyaknya jumlah keracunan, yang membuat para siswa mengalami gangguan kesehatan yang serius. 

Secara resmi BGN tidak mengeluarkan data mengenai keracunan, tetapi dari informasi yang disampaikan Kementerian Kesehatan, jumlah korban terus bertambah. Kasus keracunan justru pecah di mana-mana dan lebih masif.