Pembayaran Kupon Obligasi Rusia Angkat Indeks Saham Asia di Sesi Pembuka
:
0
EmitenNews.com - Indeks saham di Asia Senin (21/3) pagi ini dibuka naik setelah indeks saham utama di Wall Street akhir pekan lalu berakhir menguat dan mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak bulan November 2020.
Sepanjang minggu lalu, indeks saham S&P 500 lompat 6.1%. Ini adalah kenaikan mingguan pertama dalam tiga minggu terakhir dan terbesar sejak November 2020.
Indeks saham DJIA dan NASDAQ masing-masing mencatatkan kenaikan 5.5% dan 8.1% pada minggu lalu.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang Pemerintah AS (US Treasury Note) bertenor 10 tahun turun 5 bps menjadi 2.14%. Sementara harga spot dan kontrak berjangka (futures) emas turun seiring dengan meredanya permintaan atas aset yang di anggap aman (safe-haven) pasca dimulainya siklus kenaikan suku bunga acuan di AS serta reboundnya nilai tukar mata uang USD terhadap sejumlah mata uang utama di dunia.
"Investor menyambut baik pembayaran kupon obligasi Pemerintah Rusia yang menghindarkan Rusia dari status gagal bayar (default), paling tidak untuk saat ini," kata analis Phillip Sekuritas, Dustin Dana Pramitha.
Kementerian Keuangan Rusia mengumumkan telah memerintahkan Citibank cabang London mendistribusikan dana sebesar USD117 juta untuk pembayaran kupon 2 obligasi berdenominsai USD yang jatuh tempo minggu lalu.
Pembayaran ini sedikit menghapus kekhawatiran investor bahwa Rusia tidak mampu memenuhi kewajiban finansialnya. Namun belum jelas apakah Rusia akan mampu membayar utang luar negerinya menyusul penerapan sejumlah sanksi ekonomi sebagai akibat dari invasi Rusia ke Ukrania.
Investor juga memantau pembicaraan antara Presiden AS Joe Biden dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berkaitan dengan krisis di Ukrania yang berakhir tanpa meghasilkan kejutan besar.
Di pasar komoditas, harga kontrak berjangka (futures) minyak mentah menguat pada hari Jumat, namun secara mingguan mengalami penurunan selama dua minggu beruntun.
Permintaan minyak mentah dunia tertekan oleh kelangkaan pasokan karena, menurut Dustin, pelaku pasar meghindari menjual minyak asal Rusia. Sementara volume produksi dari OPEC+ kembali merosot di bulan Februari dibanding volume produksi pada bulan sebelumnya.
Tekanan atas permintaan minyak juga datang dari mandeknya pembicaraan nuklir antara dunia barat dan Iran serta kekhawatiran mengenai gelombang terkini kasus penularan virus Covid-19 di Tiongkok.
Related News
Kemendag Minta Klarifikasi Traveloka Terkait Refund Pembatalan Tiket
Dubes China Dukung Perluasan Akseptasi QRIS di Negaranya
Tutup April 2026, IHSG Merosot Tajam Tinggalkan Level 7.000
IHSG Sesi I Ambles 2,46 Persen, Asing Net Sell Rp0,97 Triliun
Bursa Sorot MSIE-HBAT, BOBA Dilepas, dan BAPA Kena Suspensi Kedua
Begini Bahlil Respon Laporan JP Morgan Soal Konsumsi Energi





