Pemulihan Berlanjut, DOID Catat Pertumbuhan EBITDA Semester I 2026
:
0
Sebuah kendaraan alat berat di area pertambangan BUMA Internasional Grup. FOTO - Dok DOID
EmitenNews.com - BUMA Internasional Grup (DOID) per 30 Juni 2026 membukukan pertumbuhan EBITDA di tengah penurunan pendapatan, dan biaya nonberulang (one-off costs). Capaian itu, membuktikan kemajuan sepanjang 2025, dan berlanjut hingga kuartal I 2026 terus menunjukkan hasil makin nyata. Kinerja inti bisnis grup terus tumbuh, didukung klien-klien tier-1 utama berjangka panjang (anchor clients), meski sejumlah kontrak lainnya telah berakhir.
Portofolio aktif grup kini beroperasi dengan lebih efisien dan menghasilkan margin EBITDA lebih kuat melalui optimalisasi tenaga kerja secara berkelanjutan, alokasi modal disiplin, dan penguatan strategi pengelolaan aset sehingga berhasil meningkatkan keandalan armada.
Operasional grup di Indonesia mencatat peningkatan terukur pada aspek keandalan, utilisasi, dan produktivitas pada kuartal II 2026. Ketersediaan fisik (physical availability) membaik secara kuartalan (QoQ), dan dibanding kuartal II 2025, dengan lebih dari separuh ketersediaan armada kini berada di tingkat 90 persen atau lebih tinggi.
Waktu henti (downtime) turun 11 persen QoQ, dan 22 persen versus kuartal II 2025, seiring kepatuhan pemeliharaan terencana (scheduled maintenance compliance) hampir berlipat ganda menjadi 46 persen dari periode sama tahun lalu 25 persen. Kualitas pemeliharaan juga membaik, ditandai kemampuan peralatan untuk beroperasi lebih lama sebelum mengalami gangguan (mean time between stops atau MTBS meningkat 22 persen QoQ, dan 20 persen versus 2Q25), serta waktu perbaikan juga makin singkat, dengan mean time to repair (MTTR) turun 18 persen QoQ, dan 6 persen versus kuartal II 2025 menjadi 7,5 jam.
Utilisasi juga membaik, seiring pemeningkatan UA (use of availability) pada kuartal II 2026. Berpadu dengan peningkatan ketersediaan (availability), hal itu mendorong kenaikan jam kerja peralatan per unit 17 persen QoQ, sehingga tingkat operasi (run rate) armada kembali berada pada level secara umum sejalan dengan kuartal II 2025. Peningkatan itu, didukung penurunan waktu nonproduktif. Di mana, jam nonproduktif per unit turun 8 persen QoQ, dan 6 persen dibandingk kuartal II 2025, seiring kondisi musim kemarau mengurangi waktu tunggu akibat hujan, jalan licin (rain/slippery-condition standby), dan penanganan beberapa kendala di area pembuangan, jalan angkut, dan kondisi geologi.
Dampaknya terlihat pada produktivitas lebih tinggi, dengan bank cubic meter (BCM) per jam naik 2 persen versus kuartal II 2025. Di lokasi tambang terbesar grup di Indonesia, cycle time tercatat 4 persen lebih singkat dibanding kuartal II 2025, didorong kondisi permukaan jalan lebih baik, berkurangnya waktu antre di area pemuatan dan persimpangan, seiring pengelolaan lalu lintas dan koordinasi dispatch lebih efektif. Didukung berbagai perbaikan tersebut, total produksi grup di Indonesia dan Australia meningkat. Volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) naik 10 persen QoQ menjadi 97 juta bank cubic meters (BCM), sementara produksi batu bara meningkat 20 persen QoQ menjadi 17 juta ton (MT).
Biaya unit per BCM1 naik 23 persen dibanding kuartal II 2025, dan 10 persen QoQ. Kenaikan itu, didorong lonjakan harga bahan bakar 29 persen selama tahun berjalan (YTD), bukan oleh peningkatan konsumsi. Biaya bahan bakar per BCM naik 36 persen dibanding kuartal II 2025, dan 61 persen QoQ, dipicu faktor harga. Di sisi lain, konsumsi bahan bakar per BCM turun 7 persen dibanding kuartal II 2025, dan 4 persen QoQ, karena armada membakar lebih sedikit bahan bakar untuk memindahkan volume sama, berkat perbaikan kondisi jalan angkut dan perilaku berkendara lebih baik melalui pemantauan lebih ketat.
Dua komponen biaya berada dalam kendali operasional menunjukkan perkembangan positif bagi grup. Biaya tenaga kerja per BCM2 turun 7 persen dibanding kuartal II 2025, dan 13 persen QoQ, mencerminkan manfaat run-rate dari program efisiensi dan rasionalisasi tenaga kerja telah diselesaikan sepanjang 2025. Biaya perbaikan dan pemeliharaan (repair and maintenance) per BCM naik 11 persen dibanding kuartal II 2025 tetapi turun 9 persen QoQ, seiring normalisasi pengeluaran pemeliharaan telah dialokasikan lebih awal pada kuartal I. Dampak positifnya terhadap keandalan armada terus terlihat melalui peningkatan ketersediaan unit pada kuartal II 2026.
Berakhirnya kontrak di site Binungan milik Berau Coal dan site IBP milik Resource Alam Indonesia di Indonesia, serta site Burton milik Bowen Coking Coal di Australia, disertai ramp-down di sejumlah operasi lainnya, menyebabkan total volume overburden removal tercatat 186 MBCM, turun 11 persen YoY, total produksi batu bara 32 MT, turun 16 persen YoY, dan penurunan pendapatan 5 persen YoY menjadi USD693 juta paruh 1 2026. Di luar site kontraknya telah berakhir atau mengalami ramp-down itu, operasi inti grup tumbuh 9 persen YoY pada overburden removal, dan 4 perssen YoY pada produksi batu bara, didukung oleh peningkatan keandalan armada serta kondisi cuaca lebih kering, dengan penurunan jam hujan di Indonesia 10 persen YoY, dan jumlah hari hujan di Australia 4 persen YoY. Average selling price (ASP) jasa kontraktor pertambangan meningkat 8 persen YoY dibanding edisi sama 2025, didorong kenaikan pada kontrak rise-and-fall maupun tier-price.
EBITDA paruh 1 2026 tercatat USD69 juta, naik 8 persen dari edisi sama 2025 sebesar USD64 juta. Peningkatan itu, berhasil dicapai meski pendapatan tercatat lebih rendah, mencerminkan pemulihan margin, dan peningkatan efisiensi biaya seluruh lini bisnis. Jika tidak memperhitungkan dampak kenaikan harga bahan bakar, EBITDA akan mendekati USD78 juta, menunjukkan kemajuan operasional sebagian tertutupi oleh dinamika biaya di luar kendali Grup. Grup mencatat rugi bersih USD50 juta, menyusut 37 persen dari posisi sama tahun lalu USD80 juta, mencerminkan pemulihan EBITDA, dan adanya dampak positif dari faktor-faktor non-operasional.
Related News
Semester I, Laba DGWG Tumbuh 93,1 Persen, dan Penjualan Rp2,39 Triliun
Tutup Semester I, Emiten Bali United (BOLA) Cetak Rugi Rp158 Miliar
Optimalisasi Operasional, Laba Bersih Emiten KAQI Naik 67,9 Persen
Pendapatan Melesat 121,58%, GULA Balikkan Rugi Jadi Laba di Q2-2026
Setelah akuisisi CJ feed , De Heus Group Akuisisi Aset AYAM
DSSA Lepas 9,63 Miliar Saham Treasury Mulai 10 Agustus, Siap Tampung?





