Presiden Masih Godok Lima Nama Calon Dubes RI Untuk Amerika
Menteri Investasi Rosan Roeslani (kanan) bersama Presiden Prabowo Subianto. Dok. Berita Nasional.
Seperti diketahui pada 2 April 2025, Presiden AS Donald Trump mematok tarif impor dasar 10 persen ke seluruh negara, dan tarif impor resiprokal ke sejumlah negara. Termasuk Indonesia sebesar 32 persen. Tetapi, belakangan Pemerintah AS saat ini menetapkan moratorium untuk pengenaan tarif resiprokal ke banyak negara, termasuk Indonesia, selama 90 hari.
Dalam perundingan, Menko Airlangga bertemu Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan Kepala Kantor Dagang AS (USTR) Jamieson Greer. Delegasi RI, yang dipimpin oleh Menko Airlangga, dan delegasi AS bersepakat membahas negosiasi tarif secara intensif selama 60 hari ke depan terhitung sejak Minggu (20/4/2025).
Sejumlah isu dibahas dalam perundingan itu. Di antaranya,, mencakup perizinan impor, perdagangan digital dan Customs Duties on Electronic Transmissions (CDET), pre-shipment inspections, kewajiban surveyor, serta ketentuan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) untuk sektor industri. Isu lainnya, yaitu implementasi tarif resiprokal, dan penguatan akses pasar kedua negara.
Dalam pertemuannya dengan Lutnick, Airlangga Hartarto menyampaikan sejumlah tawaran RI untuk AS, di antaranya Indonesia bersedia membeli LPG, gasoline, minyak mentah dari AS.
"Indonesia juga berencana memberi produk agrikultur, antara lain gandum, kacang kedelai, susu kacang kedelai, dan Indonesia juga akan meningkatkan pembelian barang-barang modal dari Amerika," kata Airlangga Hartarto saat jumpa pers di Washington D. C. pada 18 April 2025. ***
Related News
Hari Ini One Way Nasional Arus Balik Lebaran 2026 Resmi Diberlakukan
Presiden Telpon Presiden Palestina, Ucapkan Selamat Idulfitri
Kasus Penyiraman Aktivis, Tim Advokasi Minta Puspom TNI Transparan
Kerap Lawatan ke Luar Negeri, Prabowo Ungkap Soal Jaga Hubungan Baik
Polda Bali Tetapkan WNA Swiss Tersangka Penghinaan Hari Raya Nyepi
Anggota DPD Ini Minta BPK Segera Audit Anggaran MRP di Tanah Papua





