EmitenNews.com - Perubahan iklim kini tidak lagi sekadar isu lingkungan, melainkan telah menjadi risiko bisnis nyata yang berdampak langsung pada kinerja finansial sebuah perusahaan. Organisasi yang masih mempertahankan pola pikir konvensional dipastikan akan menghadapi paparan risiko yang semakin membesar, mulai dari gangguan operasional, tekanan regulasi, hingga lonjakan biaya produksi. 

Oleh karena itu, pemahaman terhadap risiko iklim bukan lagi sebuah pilihan, melainkan standar global yang krusial dalam menentukan ketahanan dan keberlangsungan perusahaan dalam jangka panjang. 

Dalam keterangannya Rabu (16/9/2026), Risk Advisory Service Partner BDO di Indonesia, Johan Sebastian, menyampaikan, penilaian risiko iklim bukan sekadar tindakan defensif untuk memenuhi kepatuhan regulasi. Ini adalah alat navigasi strategis untuk mengidentifikasi di mana bisnis Anda dapat unggul dan memenangkan persaingan di tengah perubahan ekonomi global. 

“Ketahanan bisnis masa depan ditentukan oleh seberapa cepat dan tepat keputusan yang kita ambil hari ini," katanya.

Pada akhirnya, keberhasilan agenda keberlanjutan ini akan sangat bergantung pada kemampuan organisasi dalam mengelola perubahan internalnya. Beberapa kunci utamanya adalah dengan menunjuk komunikator andal yang mampu menerjemahkan berbagai istilah teknis menjadi wawasan bisnis, menerapkan pendekatan adaptif secara bertahap, dan membentuk forum internal guna memastikan keterlibatan seluruh pihak. 

Dengan mengadopsi langkah-langkah proaktif ini, penilaian risiko iklim tidak lagi menjadi beban kepatuhan semata, melainkan bertransformasi menjadi alat navigasi strategis yang akan melindungi aset, mengendalikan biaya di masa depan, dan memastikan kemenangan di tengah persaingan ekonomi global.

Saat ini, komitmen net-zero telah mencakup sebagian besar emisi dunia dan tertuang secara resmi dalam kebijakan di berbagai negara. Meski ambisi keberlanjutan global terus menguat, tantangan terbesar bagi para pemimpin bisnis adalah bagaimana mengubah ambisi tersebut menjadi tindakan nyata yang dapat diukur.

Hambatan Utama Umumnya dari Aspek Internal 

Hambatan utama umumnya berasal dari aspek internal, seperti data yang terfragmentasi, kompleksitas pemodelan skenario, dan kesulitan dalam menerjemahkan isu iklim dalam bahasa finansial. Untuk menembus hambatan ini, perusahaan didorong untuk menyatukan fungsi keuangan, manajemen risiko, dan keberlanjutan ke dalam satu forum pengambilan keputusan guna menyusun strategi bisnis yang terkuantifikasi secara akurat.

Lebih dari sekadar merespons tuntutan pasar, analisis risiko iklim dewasa ini telah menjadi sebuah kewajiban regulatif. Melalui pilar International Sustainability Standards Board (ISSB), standar IFRS S2 secara tegas mewajibkan perusahaan mengungkapkan risiko dan peluang terkait iklim, berikut dampaknya terhadap model bisnis, rantai nilai, kinerja keuangan, serta ketahanan strategi dalam berbagai skenario iklim.