EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah tipis pada perdagangan sesi pagi Selasa (8/9/2026). Hingga pukul 11.00 WIB, mata uang Garuda berada di posisi Rp17.645 per dolar AS di pasar spot, melemah 5 poin atau 0,03% dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya di level Rp17.640 per dolar AS.

Berdasarkan konversi data real time Google hingga pukul 11.00 WIB, mata uang USD terhadap IDR ditransaksikan berada pada kisaran Rp17.630 hingga Rp17.645 per dolar AS. Sementara itu, acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat posisi terakhir sebelum pembaruan harian berada di level Rp17.653 per dolar AS.

Pelemahan nilai tukar rupiah tergolong terbatas meskipun Indeks Dolar AS (DXY) di pasar global terpantau terkikis 0,39% ke posisi 98,789. Rupiah belum mampu memanfaatkan ruang apresiasi secara optimal akibat tingginya harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh kembali memanasnya konflik militer antara AS dan Iran di kawasan Timur Tengah.

Faktor utama yang membayangi pergerakan rupiah hari ini adalah kecemasan pasar terhadap risiko inflasi berbasis energi global. Kondisi tersebut mendorong spekulasi pasar hingga 60% bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan depan.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia melaporkan kenaikan posisi cadangan devisa Indonesia sebesar USD1,2 miliar menjadi USD146,5 miliar per akhir Agustus 2026. Namun, tambahan cadangan devisa tersebut belum sepenuhnya memperkuat penyangga eksternal domestik karena adanya tekanan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebutuhan stabilisasi pasar valuta asing.

Meski begitu, ketahanan pasar valuta asing nasional masih ditopang oleh masuknya arus modal portofolio asing (capital inflows) ke pasar keuangan Indonesia yang membukukan surplus arus masuk sepanjang kuartal III 2026.(*)