EmitenNews - Setelah memenangkan tender Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) Bandara Hang Nadim Batam pada 19 Maret 2021 lalu, Konsorsium Angkasa Pura Airports bersama Incheon International Airport Corporation (IIAC) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. berencana menjadikan bandara tersebut sebagai hub kargo, baik domestik dan internasional.


"Bandara Hang Nadim akan dikembangkan untuk menjadi hub destinasi penerbangan yang lebih luas dan hub logistik serta kargo di wilayah barat Indonesia. Lokasi Bandara Hang Nadim Batam yang cukup strategis di regional Asia Tenggara dan berdampingan dengan pelabuhan kargo dan kawasan industri membuat bandara ini cocok untuk dijadikan pusat logistik," ungkap Direktur Utama Angkasa Pura Airports, Faik Fahmi.


President & CEO IIAC, Kim Kyung-wook mengatakan pengembangan Bandara Hang Nadim Batam menjadi hub baru akan meningkatkan pasar industri aviasi Indonesia dengan menggunakan pengetahuan pengembangan dan operasional bandara yang dimilikinya.


"Indonesia merupakan salah satu mitra penting Pemerintah Korea Selatan. Maka kami harap proyek ini akan memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan di bidang pengembangan infrastruktur," katanya.


Kerjasama dengan otoritas bandara di luar Korea ini bukan yang pertama bagi IIAC. Sejauh ini mereka sudah 29 kali melakukan ekspansi bisnis internasional di 14 negara senilai USD221,56 juta. Sebelum dengan Bandara Hang Nadim mereka juga sudah pernah mengirim tenaga ahli dan memberikan dukungan operasi di sejumlah bandara di Jakarta dan Surabaya antara periode 2012-2017. Bahkan selama rentang 2018-2020 IIAC sudah memberikan konsultasi dan layanan untuk 13 bandara PT Angkasa Pura 1.


Pengelolaan Bandara Hang Nadim menambah portofolio dan jaringan pengelolaan bandara Angkasa Pura 1 menjadi 16 bandara. Dalam pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam, anggota konsorsium memiliki perannya masing-masing.


Angkasa Pura I akan bertanggung jawab dalam hal manajemen operasional dan komersial secara umum. IIAC memiliki kewajiban dan tanggung jawab dalam hal pemasaran dan strategi pengembangan bandara secara umum. Sedangkan WIKA selaku BUMN bidang konstruksi yang terintegrasi dengan industri pendukungnya memiliki tanggung jawab dalam hal manajemen infrastruktur bandara.


Faik menjelaskan, potensi Bandara Hang Nadim Batam menjadi hub atau pusat logistik dan kargo ini didasarkan atas beberapa keunggulan kompetitif. Seperti lokasinya yang terletak di kawasan free trade zone yang cukup strategis di regional Asia Tenggara, berdampingan dengan pelabuhan kargo dan kawasan industri, serta memiliki runway terpanjang di Indonesia sepanjang 4.025 meter.



"Pengembangan Hang Nadim sebagai hub kargo internasional dilakukan dengan upaya menarik trafik kargo dari Amerika dan Eropa agar dapat transit di Batam untuk kemudian melanjutkan penerbangan ke Australia," katanya.


Selain itu, Bandara Hang Nadim juga dapat menjadi alternatif transit bagi maskapai-maskapai nasional yang akan mengeksplorasi pengoperasian rute khusus kargo dari dan ke China, Jepang, India, Timur Tengah, tanpa harus ke Singapura. Sementara itu, untuk hub kargo domestik, peran Angkasa Pura I ditopang melalui anak perusahaan yaitu PT Angkasa Pura Logistik yang akan menjadikan Bandara Hang Nadim sebagai hub kargo untuk rute Sumatera, Jawa, dan wilayah timur Indonesia seperti Balikpapan, Makassar, dan lainnya.


Bandara Hang Nadim juga memiliki potensi sebagai hub transit domestik di mana bandara ini akan mendukung Bandara Kualanamu sebagai superhub. Melalui Bandara Hang Nadim, penumpang dari Sumatera akan melanjutkan penerbangan ke Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya.


Konsorsium juga akan melakukan pembangunan terminal penumpang baru untuk memenuhi proyeksi pertumbuhan penumpang hingga 5 juta penumpang per tahun dalam 4 tahun pertama. Selain itu konsorsium akan melakukan renovasi terminal penumpang lama berkapasitas 3,5 juta per tahun yang akan mulai dikerjakan pada akhir 2021 atau awal 2022.(*)