EmitenNews.com - Lonjakan beban operasional menekan perolehan laba bersih PT Blue Bird Tbk (BIRD) sepanjang semester I 2026. Emiten transportasi darat di Indonesia ini membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp320,56 miliar, tergerus dari capaian periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp335,44 miliar.

Penurunan laba terjadi akibat pembengkakan pada beban langsung dan beban usaha, meskipun pendapatan neto perseroan sebenarnya masih mencatatkan pertumbuhan positif seiring meningkatnya aktivitas operasional transportasi nasional.

Berdasarkan data laporan keuangan perseroan pada Jumat (31/7/2026), pendapatan neto BIRD tumbuh 11,3 persen menjadi Rp2,97 triliun dari Rp2,67 triliun pada semester I 2025. Namun, beban langsung ikut melonjak menjadi Rp2,05 triliun dari Rp1,78 triliun.

Meski laba bruto masih tumbuh menjadi Rp917,66 miliar, peningkatan beban usaha menjadi Rp597,05 miliar dari sebelumnya Rp523,66 miliar menyebabkan laba usaha BIRD merosot menjadi Rp320,62 miliar. Pada semester I 2025, laba usaha perseroan berada di level Rp362,44 miliar.

Perseroan juga mencatat laba sebelum beban pajak penghasilan sebesar Rp412,46 miliar, turun sekitar 5 persen secara tahunan. Setelah dikurangi beban pajak neto Rp88,61 miliar, laba tahun berjalan BIRD berada di angka Rp323,85 miliar, turun dari posisi Rp339,07 miliar.

Tergerusnya laba bersih ini berdampak langsung pada penurunan laba per saham dasar maupun dilusian BIRD menjadi Rp128 per saham, dari sebelumnya Rp134 per saham.

Hingga 30 Juni 2026, total aset Blue Bird tercatat naik menjadi Rp10,09 triliun dari Rp9,65 triliun pada akhir 2025. Total liabilitas membengkak menjadi Rp3,86 triliun dari Rp3,33 triliun, sedangkan total ekuitas tergerus menjadi Rp6,23 triliun dari posisi Rp6,33 triliun per 31 Desember 2025.(*)