EmitenNews.com - Pasar saham Jepang melemah pada perdagangan hari Senin. Indeks Nikkei 225 tercatat turun 1,4% hingga berada di bawah level 65.500, sementara Indeks Topix terperosok 0,9% ke posisi 4.110. Penurunan ini menghapus kenaikan yang diraih pasar saham Jepang pada pekan sebelumnya.

Pelemahan bursa terjadi akibat pernyataan bernada keras (hawkish) dari Ketua Federal Reserve Kevin Warsh. Pernyataan tersebut menghidupkan kembali ekspektasi pasar terkait kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat pada September mendatang.

Berdasarkan laporan Trading Economics, pergerakan negatif bursa Asia ini dipicu oleh pidato Kevin Warsh pada simposium ekonomi di Jackson Hole. Dalam pidato tersebut, Warsh memperingatkan bahwa inflasi belum melambat secara signifikan dan menegaskan kembali komitmen bank sentral untuk mengembalikan inflasi ke target 2%, sembari menyebut kondisi keuangan saat ini belum ketat.

Dalam pidatonya di Jackson Hole, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menekankan arah kebijakan moneter bank sentral tersebut. "Inflasi belum melambat secara signifikan. Bank sentral tetap berkomitmen mengembalikan inflasi ke target 2%, mengingat kondisi keuangan saat ini tidak ketat," kata Warsh.

Sentimen pasar kian tertekan oleh kenaikan harga minyak dunia. Lonjakan harga terjadi setelah militer Amerika Serikat menargetkan peluncur roket Iran yang bersiap memasang ranjau di Selat Hormuz.

Dari dalam negeri Jepang, indikator ekonomi menunjukkan produksi industri periode Juli meningkat di luar perkiraan, sementara pertumbuhan penjualan ritel melampaui estimasi. Meski demikian, data positif tersebut belum mampu menahan koreksi sektor teknologi. Sektor ini memimpin penurunan bursa, dipimpin oleh Terra Drone yang merosot 15%, Advantest turun 6%, Ibiden Co terkoreksi 3,6%, SoftBank Group melemah 3,3%, dan Tokyo Electron tergerus 3%.

Pelemahan bursa kawasan kawasan Asia-Pasifik ini memberi efek gentar pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia. Pelaku pasar domestik mencermati potensi hengkangnya dana asing dari pasar modal Indonesia menuju aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi akibat ekspektasi kenaikan suku bunga acuan global tersebut.(*)