EmitenNews.com - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) merosot pada awal perdagangan pekan ini seiring melonjaknya harga minyak dunia dan menguatnya sinyal hawkish dari bank sentral AS. Penurunan indeks berjangka dipicu oleh peningkatan intensitas konflik Timur Tengah serta ketidakpastian arah suku bunga acuan The Fed.

Tekanan pada kontrak berjangka terjadi setelah harga minyak melonjak pasca-serangan militer AS terhadap peluncur roket Iran yang bersiap memasang ranjau di Selat Hormuz. Aksi militer tersebut menjadi serangan pertama AS terhadap target Iran dalam lebih dari sebulan terakhir.

Di saat yang sama, pelaku pasar mencerna sinyal dari Ketua Federal Reserve Kevin Warsh yang menegaskan kembali komitmennya untuk menekan laju inflasi. Pernyataan tersebut memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan September mendatang.

Meskipun mengawali pekan ini dengan tekanan, berdasarkan data Trading Economics pada Senin (31/8/2026), kinerja pasar saham AS sepanjang Agustus mencatatkan tren positif. Indeks Dow Jones naik 2,05% pada bulan Agustus dan berada di jalur kenaikan bulanan kelima secara berturut-turut. S&P 500 dan Nasdaq Composite juga mencatatkan penguatan masing-masing sebesar 2,96% dan 4,05% pada bulan ini, didorong oleh kinerja kuat saham sektor teknologi.

Pergerakan pasar keuangan AS ini menjadi acuan penting bagi pelaku pasar modal di Indonesia untuk mengantisipasi arah indeks harga saham gabungan (IHSG) serta arus modal asing di pasar domestik.

Investor global saat ini mengalihkan perhatian ke rilis data laporan pekerjaan AS periode Agustus yang dijadwalkan terbit pada hari Jumat untuk membaca kesehatan ekonomi lebih lanjut. Di sisi korporasi, pasar juga menantikan rilis laporan keuangan pekan ini dari sejumlah emiten teknologi utama, seperti Broadcom, Dell, Palo Alto Networks, dan Snowflake.(*)