EmitenNews.com - Indeks dolar Amerika Serikat diperdagangkan mendekati level 101 pada Selasa setelah mencatatkan kenaikan selama tiga sesi berturut-turut. Penguatan mata uang AS ini terdorong oleh ketegangan militer antara AS dan Iran yang memicu lonjakan harga minyak global serta menghidupkan kembali kekhawatiran atas kenaikan inflasi dan suku bunga.

Eskalasi militer berlanjut memasuki hari kesepuluh berturut-turut melalui serangan AS terhadap wilayah Iran. Dalam keterangannya, Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa Teheran akan bertanggung jawab atas kematian tiga anggota militer AS. Pada saat bersamaan, kelompok militan Houthi yang didukung Iran mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi, yang memperluas kekhawatiran pasar terkait kelancaran pasokan dan pengiriman energi melalui jalur Laut Merah.

Di sisi diplomasi, pihak Iran menyatakan bahwa para mediator telah menyampaikan proposal untuk meredakan ketegangan dengan pihak AS setelah beberapa hari dilanda pertempuran. Laporan pasar juga mengindikasikan adanya potensi opsi gencatan senjata selama 10 hari. Berdasarkan data Trading Economics, pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sebesar 55 persen bagi Bank Sentral AS (The Fed) untuk menaikkan suku bunga pada September mendatang, naik dari posisi 51 persen pada hari sebelumnya.

Para pejabat The Fed sendiri saat ini telah memasuki periode larangan berbicara menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) minggu depan. Pada pertemuan tersebut, para pembuat kebijakan secara luas diproyeksikan bakal mempertahankan suku bunga dana federal di tingkat yang sama.

Bagi pasar keuangan Indonesia, kokohnya posisi dolar AS dan ancaman kenaikan suku bunga The Fed memberikan tekanan tersendiri terhadap pergerakan rupiah. Lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah juga berpotensi memperbesar beban nilai impor energi nasional serta memberi tekanan pada stabilitas inflasi domestik.(*)