Duh! Pengamat Sebut Rupiah Berpotensi Sentuh Rp18.000
:
0
Ilustrasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Foto: istimewa
EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi mendekati level Rp18.000 imbas tekanan eksternal dan internal. Sepanjang perdagangan hari ini, Kamis (28/5/2026), rupiah sempat menembus level Rp17.855.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memicu pelemahan rupiah. Ketegangan yang kian meningkat setelah AS disebut melakukan serangan terhadap instalasi strategis di wilayah Iran Selatan, diperkirakan memicu respons balasan dari Iran.
Selain di Timur Tengah, konflik antara Rusia-Ukraina turut memperburuk sentimen global. Menurut Ibrahim, serangan yang terjadi di wilayah strategis Rusia membut tensi geopolitik Eropa kembali meningkat, sementara Ukraina terus meminta tambahan dukungan persenjataan dari AS dan NATO.
Kombinasi geopolitik itu mendorong kenaikan harga minyak dunia secara signifikan. Harga minyak Brent diperkirakan bergerak menuju level USD92 hingga USD96 per barel, sementara minyak WTI juga mengalami lonjakan akibat terganggunya rantai logistik dan risiko pasokan energi global.
“Kenaikan harga minyak akan memicu inflasi global. Bukan saja di as, bahkan secara global,” kata Ibrahim kepada wartawan, Kamis (28/5).
Di sisi lain, pasar juga mencermati sikap bank sentral AS atau The Fed yang masih fokus terhadap ancaman inflasi. Pengamat menilai peluang penurunan suku bunga semakin kecil, bahkan terdapat kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan apabila inflasi kembali meningkat.
“Pasar melihat bank sentral AS cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bahkan ada peluang kenaikan satu kali lagi,” ujarnya.
Dari domestik, tekanan terhadap rupiah dinilai datang dari meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk impor, pembayaran dividen perusahaan, hingga perpindahan dana masyarakat ke aset valas.
Selain itu, jatuh tempo utang bunga yang nilainya disebut mencapai Rp600 triliun turut membebani kebutuhan likuiditas dolar di pasar domestik.
Ia juga menyinggung sejumlah persoalan internal seperti tata kelola program pemerintah yang dinilai memicu kekhawatiran investor asing, seperti MBG dan Kopdes Merah Putih. Hal itu berdampak pada derasnya arus modal keluar, sepanjang periode libur panjang.
Related News
Obligasi dan Sukuk PLN Senilai Rp683,2 Miliar Jatuh Tempo 1 Agustus
Kinerja Menggembirakan, Laba Maybank (BNII) Meningkat 21,2 Persen
Indef Nilai Margin Bunga Bersih Bank Turun Perkuat Akses KPR Subsidi
Pemerintah Miliki Utang ke Pupuk Indonesia, Naik Jadi Rp21 Triliun
Harga Pertamax Resmi Turun, Tapi Minimalis, Cek Daftarnya Terbarunya
Calon Gubernur BI Masih Digodok, Begini Syarat Wajib dari Prabowo





