EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia bertahan di kisaran USD 83 per barel pada Selasa. Angka ini mendekati level tertinggi dalam lima minggu terakhir akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memasuki hari kesepuluh berturut-turut.

Berdasarkan data Trading Economics, lonjakan harga minyak terdorong oleh aksi saling serang antara kedua negara. Iran terus melancarkan serangan balasan ke negara-negara tetangga. Di sisi lain, milisi Houthi yang didukung Iran mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi. Langkah tersebut memperbesar kekhawatiran publik global terhadap keandalan pengiriman energi melalui jalur vital Laut Merah.

Lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan menurun tajam pekan ini setelah terjadi serangan Iran terhadap sejumlah kapal pada akhir pekan lalu. Gangguan pada alur pelayaran utama dunia ini memperketat prospek pasokan global, sehingga terus menopang kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional.

Ketegangan geopolitik semakin memuncak usai pernyataan tegas dari pihak otoritas tertinggi Amerika Serikat terkait jatuhnya korban jiwa dari pihak mereka.

"Iran telah diperingatkan bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas kematian tiga anggota militer AS," ujar Presiden Donald Trump.

Di tengah situasi panas tersebut, pihak Iran menyatakan bahwa para mediator telah mengajukan proposal khusus untuk membantu meredakan ketegangan dengan Amerika Serikat pascapertempuran sengit beberapa hari terakhir. Sejumlah laporan juga mengindikasikan adanya potensi kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari.

Bagi Indonesia, gejolak harga minyak dunia hingga menembus angka USD 83 per barel ini menjadi perhatian serius. Sebagai negara net importir minyak mentah, kenaikan harga komoditas energi global berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Selain itu, dinamika ini berisiko memicu tekanan inflasi domestik jika biaya logistik dan BBM tidak terserap dengan baik. Kepatuhan pada stabilitas pasokan energi nasional kini bergantung pada perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah tersebut.(*)