EmitenNews.com - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat tekanan di pasar keuangan domestik masih berlanjut seiring sentimen global yang belum sepenuhnya mereda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 1,33% ke level 6.589, dibarengi aksi jual bersih investor asing sebesar Rp748 miliar di pasar reguler.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan tekanan terutama terlihat pada saham perbankan, termasuk BBCA dan BBRI, yang sebelumnya menjadi salah satu penopang pasar. Di sisi lain, investor asing masih mengakumulasi ANTM, AADI, CUAN, dan PTBA, menunjukkan adanya rotasi parsial menuju saham komoditas dan sektor tertentu.

“Sentimen global masih menantang seiring US10YT mendekati 5%, kenaikan drastis ECB menjadi 2,5%, serta harga minyak yang bertahan tinggi. Namun, transmisi ke pasar domestik sejauh ini relatif terbatas,” ujar Rully, Jumat (11/9/2026) di Jakarta.

Dari sisi domestik, rupiah berada di sekitar Rp17.547 per dolar AS dengan yield SBN 10 tahun sebesar 7,11%. Tidak adanya lelang SRBI sepanjang September turut mendorong realokasi likuiditas perbankan ke SBN.

Menurut Rully, penguatan rupiah memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mengurangi stance defensif dan melonggarkan kondisi likuiditas dalam jangka pendek. Namun, harga minyak dan global yields yang masih tinggi membatasi ruang pengelolaan melalui BI-Rate.

Sementara itu, indikator konsumsi domestik mulai menunjukkan perbaikan meski belum merata. Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, mengatakan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 naik menjadi 118,5 dari 116,8 pada Juli.

Kenaikan juga terlihat pada Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini menjadi 109,4 dan Indeks Ekspektasi Konsumen menjadi 127,6. Meski demikian, masih terdapat selisih 18,2 poin antara persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi ke depan. Hal ini menunjukkan konsumen masih lebih berhati-hati dalam menilai kondisi ekonomi saat ini.

“Perbaikan belum terjadi secara menyeluruh. Kelompok pengeluaran Rp4,1–5 juta justru menjadi satu-satunya kelompok yang mencatat penurunan keyakinan, sementara persepsi pasar tenaga kerja melemah pada responden berpendidikan universitas dan pascasarjana,” jelas Novani.

Perubahan pola pengelolaan keuangan rumah tangga juga menjadi perhatian. Porsi tabungan turun paling besar pada rumah tangga dengan pengeluaran Rp1–4 juta, sementara konsumsi meningkat di hampir seluruh kelompok.

Kondisi tersebut berpotensi menopang permintaan jangka pendek, tetapi pada saat yang sama menunjukkan buffer keuangan rumah tangga pada segmen tertentu semakin tipis. Dengan inflasi mencapai 3,19% secara tahunan, keberlanjutan daya beli akan bergantung pada kemampuan pertumbuhan pendapatan untuk mengimbangi kenaikan harga.